agen bola,betting-Data BPS: Kemana Perginya 10 Juta Ton Jagung Itu?















【agen judi, agen bola, betting, bandar bola, baccarat, poker, games, agen bola ibcbet, agen bola terpercaya, agen bola tangkas, agen bola sbobet, situs judi bola, judi online, sbobet, ibcber】

Data (statistik) haruslah akurat. Perumusan kebijakan akan tumpul. Begitupula dengan pengambilan keputusan, akan keliru jika tidak didasarkan pada data yang akurat.


Terkait akurasi data, sedikit membuat ‘pegal hati’ ketika membaca berita bertajuk “Pengusaha Tak Percaya pada Data Pangan BPS” yang dimuat di harian KOMPAS Kamis lalu (12/04/2012). Sejumlah pengusaha dikabarkan skeptis terhadap akurasi data produksi jagung yang dipublikasikan Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2011 lalu. Data tersebut dianggap tidak akurat karena kenyataannya tidak konsisten dengan kondisi riil di lapangan.


Diketahui, menurut BPS, produksi jagung dalam bentuk pipilan kering tahun lalu diperkirakan sebesar 17,2 juta ton (ARAM III). Sementara itu, pada saat yang sama, para pelaku industri pakan ternak ternyata harus mengimpor 3,5 juta ton jagung dari manca negara karena sulitnya memperoleh jagung di dalam negeri. Padahal, kebutuhan jagung untuk industri pakan ternak hanya 6 juta ton.


Pertanyaannya kemudian, kenapa hal ini bisa terjadi? Ke mana perginya kelebihan produksi jagung yang lumayan besar itu (sekitar 10 juta ton)? Tentu akan ada banyak jawaban untuk pertanyaan ini. Dan salah satu jawaban yang cukup mungkin adalah data produksi BPS tidak akurat.


Sebatas indikasi


Sebetulnya, kejanggalan di atas barulah sebatas indikasi untuk menengarai bahwa data produksi jagung pada tahun 2011 lalu ketinggian atau dilebih-lebihkan (overestimate). Dengan lain perkataan, terlalu jauh jika berdasarkan kejanggalan itu kita kemudian menyimpulkan bahwa data BPS tidak akurat dan tak bisa dipercaya. Apalagi sampai menetapkan bahwa tingkat akurasinya hanya 60 persen. Saya kira, dibutuhkan penelisikan lebih dalam untuk memastikan semua itu.


Jika dicermati, angka sebesar 17,2 juta ton sebenarnya merupakan estimasi produksi di lahan pertanian yang tidak memperhitungkan terjadinya susut pasca panen atau kehilangan (loses). Selain itu, penggunaan produksi jagung sebesar 17,2 juta ton itu sebetulnya bukan hanya untuk industri pakan ternak saja. Sebagian tentu ada yang dikonsumsi oleh rumah tangga, digunakan sebagai bibit dan bahan baku industri selain pakan ternak, serta diekspor ke manca negara.


Diketahui, konsumsi jagung penduduk Indonesia mencapai 28,4 kilogram per kapita per tahun (FAO, 2007). Itu artinya, konsumsi jagung seluruh penduduk Indonesia pada tahun 2011 lalu bisa mencapai 6,8 juta ton: diperoleh dari hasil perkalian antara angka konsumsi per kapita dan jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2011 sebesar 240 juta orang (proyeksi). Ini baru konsumsi rumah tangga, bagaimana dengan penggunaan lainnya?


Selain itu, patut diperhatikan bahwa dari sisi sebaran, angka produksi sebesar 17,2 juta ton sebetulnya merupakan hasil agregasi produksi jagung sebesar 9,1 juta ton di Jawa dan 8,1 juta ton di luar Jawa. Mudah untuk diduga, sebagian besar industri pakan ternak, begitupula dengan kapasitas produksinya, terkonsentrasi di Jawa.


Berdasarkan data dari Gabungan Pengusaha Makanan Ternak (GPMT), dari 47 industri pakan ternak skala besar yang masih aktif hingga tahun 2008 lalu di Indonesia, 33 di antaranya terdapat di Jawa: Jawa Timur 15 pabrik, Banten 10 pabrik, Jawa Barat 4 pabrik, dan Jakarta 4 pabrik (GPMT, 2008). Patut diduga, impor jagung sebesar 3,5 juta ton tahun lalu (sebagian besarnya) dilakukan oleh perusahan-perusahaan pakan ternak skala besar di Jawa.


Kerena itu, dengan memperhatikan fakta-fakta di atas, saya kira sangat mungkin terjadi: para pelaku industri pakan ternak kesulitan mendapatkan suplai jagung dari dalam negeri sehingga harus mengimpor dari manca negara meskipun pada saat yang sama produksi dalam negeri mencapai 17,2 juta ton. Tanpa harus menyimpulkan bahwa data BPS tidak akurat dan tak bisa dipercaya. Sebagaimana yang dinyatakan dengan begitu berapi-api oleh Ketua Dewan Hortikultura Nasional Tony Kristianto dalam briefing Asosiasi Perusahaan Pertanian dalam rangka pemutakhiran direktori perusahaan pertanian oleh BPS di Jakarta, Rabu (11/4), yang kemudian menginspirasi judul berita di Harian Kompas yang membuat pegal hati itu.


‘Data BPS’


Lebih dari itu, akan lebih sreg kiranya jika kita dapat memahami bagaimana sebenarnya angka produksi jagung selama ini dihitung. Saya kira, ini penting terkait penggunaan kata-kata ‘data BPS’ dalam konteks akurasi angka produksi jagung sebesar 17,2 juta ton yang sedang dipersoalkan.


Sebagaimana angka produksi komoditas pangan lainnya, angka produksi jagung juga diperoleh melalui hasil perkalian antara luas panen dan produktivitas (produksi per hektar). Dalam prakteknya, pengukuran luas panen dilakukan oleh mantri tani, yakni petugas Dinas Pertanian atau dinas-dinas serupa di bawah koordinasi Kementerian Pertanian pada level kecamatan.


Sementara itu, pengukuran produktivitas dilakukan oleh petugas BPS–koordinator statistik kecamatan atau mantri statistik (untuk sampel ganjil)–dan mantri tani (untuk sampel genap). Hasil pengukuran luas panen dan produktivitas kemudian dimasukkan ke dalam sistem data BPS sehingga diperoleh angka produksi yang kemudian dipublikasikan ke khalayak sebagai ‘angka BPS’.


Terlepas bahwa dari sisi metodologi pencuplikan sampel, pengukuran produktivitas selama ini menjadi tanggung jawab BPS. Saya kira, terlihat jelas dan dapat dipahami: kontribusi BPS dalam penghitungan angka produksi jagung sejatinya, kalau boleh dibilang, hanya 25 persen. Oleh karena itu, menjadi kurang sreg sebetulnya jika angka produksi jagung–hasil kerjasaman BPS dan Kementan–sebesar 17,2 juta ton yang dipersoalkan akurasinya itu disebut sebagai ‘data BPS’.


Kemana perginya?


Jika data produksi jagung sebesar 17,2 juta ton itu memang betul menderita overestimate. Mudah untuk diduga, penyebabnya adalah penghitungan luas panen yang jauh dari akurat/overestimate. Selama ini, penghitungan luas panen menggunakan metode pandangan mata (eyeestimate). Tentu sangat sulit untuk mengharapkan data luas panen yang akurat dari metode seperti ini jika tidak dilakukan oleh mereka yang betul-betul berpengalaman. Selain itu, potensi moral hazard juga bisa terjadi: data luas panen dikerjakan di atas meja.


Ditengarai, salah satu penyebab data luas panen jagung yang dilaporkan mantri tani menderita overestimate adalah diikutkannya laus panen tanaman jagung yang dipanen muda (bukan pipilan kering) dan digunakan untuk hijauan pakan ternak, yang jumlahnya cukup besar, ke dalam pelaporan laus panen per bulan. Saat ini, tidak sedikit petani yang memilih untuk memanen jagungnya saat umur muda karena lebih menguntungkan secara ekonomi. Ini banyak terjadi di sejumlah sentra produksi jagung nasional, Jawa Barat, misalnya.(*)


Pendapat pribadi






starfe 發表在 痞客邦 留言(0) 人氣()






agen bola,betting-Dari Workshop Pengadaan Barang
& Jasa PTK 007: TKDN, Salah Satu Keberpihakan Nyata pada Produk Dalam
Negeri
















【agen judi, agen bola, betting, bandar bola, baccarat, poker, games, agen
bola ibcbet, agen bola terpercaya, agen bola tangkas, agen bola sbobet, situs
judi bola, judi online, sbobet, ibcber】

Ketua Komunitas Migas Indonesia, S.Hery Putranto menyampaikan kata sambutan Pembukaan



[A]khirnya saat itu tiba. Sudah lama saya berharap bisa mengikuti training
tentang Tender Management Pengadaan Barang dan Jasa sesuai PTK 007 Revisi II
yang diselenggarakan atas kerjasama Koperani Bina Petro Mandiri (BP Migas) dan
Komunitas Migas Indonesia. Pelatihan yang sudah memasuki Batch VII yang
dilaksanakan di Hotel Royal Panghegar Bandung tanggal 2-5 April ini dihadiri
oleh sekitar 35 orang?yang mewakili industri-industri penunjang migas, KKKS dan
pelaku bisnis di dunia migas.



Saya sendiri mewakili PT Geographe Energy Indionesia. Sebenarnya pada batch
VI yang dilaksanakan di Batam bulan Desember lalu, saya sempat mendaftarkan diri
bersama 2 rekan PT Geographe lainnya yaitu Pak Ichwan Ridwan dan bu Hotma.
Sayangnya, karena kesibukan cukup tinggi di kantor, saya menunda partisipasi
saya ke batch berikutnya. Alhamdulillah, saya akhirnya bisa mengikuti batch VII
di Bandung sekarang yang konon merupakan workshop tentang tender management
pengadaan barang dan jasa PTK 007 terakhir yang diadakan.sepanjang tahun
2012.



Hari Senin, 2 April 2012 acara dibuka dengan sambutan dari Pak August
Tampubolon dari Koperasi BP Migas, yang dilanjutkan oleh mitra pelaksana
kegiatan ini yaitu dari Komunitas Migas Indonesia, Pak S.Hery Putranto. “Kami
sangat bangga dan bahagia karena akhirnya kami dapat melaksanakan pelatihan
angkatan ketujuh ini untuk mengakomodir keinginan kawan-kawan pelaku industri
migas, tidak hanya terbatas pada lingkungan milis Migas Indonesia namun juga
dari pemerhati migas yang ingin menambah pengetahuan tentang selak beluk
aplikasi pengadaan barang dan jasa yang sesuai dengan PTK 007 Revisi II,”
demikian ungkap Pak Hery dengan raut wajah sumringah.



“Perlu diketahui,” tambahnya lagi,”untuk menambah sinergi konstruktif
sesama anggota Komunitas Migas Indonesia, khususnya member milisnya yang kini
sudah memiliki 15.000 anggota, ?maka atas usulan yang masuk dan kajian betapa
pentingnya menjalin networking serta bantuan dari berbagai pihak, maka
pada akhir April nanti, KMI akan menyelenggarakan acara Forum Bisnis yang
membahas kajian dari berbagai aspek terkait dengan industri migas”.



Di kesempatan berikutnya, Pak Robertuis Sumardji, Staf Ahli Deputy Umum BP
Migas untuk Supply Chain yang juga menjadi pengajar dalam pelatihan ini membuka
secara resmi acara. Menurut beliau, pelatihan ini menjadi sebuah kesempatan
berharga bagi para pendukung industri migas untuk memberikan keseragaman dan
kesamaan persepsi tentang Pedoman Tata Kelola 007 yang mana revisi keduanya baru
saja dilaksanakan pada tahun 2011.





Seusai rangkaian acara pembukaan dilanjutkan dengan pemaparan materi oleh Pak
Robertus Sumardji. Dengan gayanya yang komunikatif dan energik, Pak Robertus
menmguraikan peran strategis PTK 007 Revisi II untuk industri migas khususnya
dalam mengatur ?proses pengadaan barang dan jasa dengan keberpihakan penuh pada
produksi dalam negeri.?Pedoman Tata Kerja (PTK) ini dirancang oleh Badan
Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (BPMIGAS)..PTK 007 Revisi 2 yang
dikeluarkan BPMIGAS hampir sama persis dengan PERMEN 15/16 tentang Petunjuk
Teknis TKDN dimana keduanya memiliki spirit serupa yakni “menggalakkan
penggunaan produk-produk Indonesia”.



TKDN atau Tingkat Komponen Dalam Negeri (populer disebut “Local Content”)
merupakan basis utama dalam memperhitungkan daya siang pemasok pada proses
pelelangan hingga kontrak pengadaan barang dan jasa. Secara khusus bisa
dikatakan. Insentif persentasi TKDN yang diberikan merupakan refleksi dari
kalkulasi komprehensif kandungan lokal yang dimiliki oleh pemasok dan menjadi
faktor penting dalam penentuan hasil evaluasi pada proses pelelangan barang.



Pelaksanaan kegiatan pengadaan barang/jasa khususunya dalam rangjka
mengutamakan penggunaan barang produksi dalam negeri dan mengutamakan
pemanfaatan jasa dalam negeri menggunakan buku Apresiasi Produk Dalam Negeri
(APDN) yang diterbitkan oleh instansi pemerintah yang membidangi industri minyak
dan gas bumi. Buku ini bisa menjadi rujukan dalam menetapkan strategi pengadaan
barang dan jasa.



Selama 2,5 hari dari tanggal 2-4 April 2012, Pak Robertus menyajikan materi
kepada kami. Tidak hanya mendengarkan materi, kamipun mencoba melakukan simulasi
penentuan supplier berdasarkan formulasi preferensi TKDN dan PTK 007. Kami
sangat antusias mengikuti acara ini apalagi tentu saja memberikan wawasan
berharga bagi komitmen pemerintah–melalui kebijakan BP Migas — tentang
keberpihakan pada produk dalam negeri disaat yang sama kami mampu menerapkan
secara faktual pada aktifitas keseharian sebagai pelaku langsung maupun tidak
langsung pada strategi pengadaan barang dan jasa di industri migas.



Di hari ketiga dan keempat, tampil pak Iwan Gayaputra dari PT Surveyor
Indonesia yang membawakan materi “Peningkatan Produk Dalam Negeri”. Pak Iwan,
menguraikan bahwa komitmen pemerintah untuk menghargai produk negeri sendiri
direfleksikan melalui Inpres No.2 tahun 2009 tentang “Penggunaan Produksi dalam
negeri dalam pengadaan barang dan jasa pemerintah lalu dijabarkan dalam Perpres
No.54 Tahun 2010, ?Permenperin RI No.15 & 16 tahun 2011 yang menjelaskan
tentang tatacara perhitungan TKDN dan BMP (Bobot Manfaat Perusahaan) dan
pedomannya.



Pak Iwan memberikan bimbingan kepada kami bagaimana cara memperhitungkan TKDN
secara mandiri (self assesment) sebelum tahapan verifikasi lebih lanjut dari
Departemen Perindustrian untuk memperoleh sertifikat TKDN. Simulasi yang
disajikan dalam perhitungan mandiri TKDN juga setidaknya menjadi acuan kami
untuk memperhitungkan secara tepat dan akurat nilai TKDN sesungguhnya yang
dimiliki.




Secara umum selama 4 hari pelatihan yang padat ini
(mulai pukul 08.00 pagi-16.30 sore) sungguh membuka mata saya lebih lebar
tentang bagaimana komitmen pemerintah Indonesia untuk lebih berpihak pada produk
dalam negeri ?lewat instrumen TKDN dan tentu saja menambah wawasan saya dalam
soal strategi pengadaan barang dan jasa khususnya di Industri Migas. Terimakasih
sebesar-besarnya pada Komunitas Migas Indonesia yang bekerjasama dengan Koperasi
Bina Petro Mandiri BP Migas yang telah menyelenggarakan kegiatan ini.







starfe 發表在 痞客邦 留言(0) 人氣()






agen bola,betting-Dari Wonosari, Tiwul
Mendunia
















【agen judi, agen bola, betting, bandar bola, baccarat, poker, games, agen
bola ibcbet, agen bola terpercaya, agen bola tangkas, agen bola sbobet, situs
judi bola, judi online, sbobet, ibcber】

 


YU TUM adalah merek tiwul asal
Wonosari. Keberadaannya, tak sekedar membuka mata bila produk asal singkong,
makanan ‘kaum pinggiran’ ini memiliki penggemar dan mampu menjadi garapan
penyambung hidup bagi pembuatnya. Terlepas dari semua itu, geliat Yu Tum
mengelola bisnis tiwul, bisa menjadi penyemangat program diversifikasi pangan di
negeri ini yang kian meredup. Di saat makin mahalnya harga pangan biji-bijian
dunia. Padahal, sejak digagas 44 tahun silam, program diversifikasi pangan
disebut-sebut sebagai solusi ampuh menekan beban subsidi pemerintah, di samping
upaya mengatasi ancaman krisis pangan di Indonesia.


 


1316781483675862366


1316781773800262180


Tiwul merek Yu Tum


 


 


 


Keringat jatuh dari muka Mbok Tumirah. Di sebuah dapur berdinding geribik
itu, ia tampak begitu sibuk menyelesaikan kukusan singkong rebusnya.


 


Wajah Mbok Tumirah terlihat beranjak renta. Kulitnya pun tampak mengkriput.
Maklumlah, tiga bulan lagi usianya genap 80 tahun.


 


Namun, meski begitu, kedua tangan Mbok Tumirah tetap saja cekatan
membolak-balik rebusan penuh singkong dalam wadah panci besar itu. Ia laiknya
ibu baru berumuran empat puluhan tahun. Mbok Tumirah memang tampak masih amat
bertenaga.


 


Sesekali, tawa pun riuh pecah di antara letupan bunyi tungku kayu bakar
miliknya. Sore itu, dia memang tak bekerja sendirian. Ada empat orang lain turut
hilir mudik membantu. Kesemuanya perempuan setengah baya.


 


”Hampir tiap hari pekerjaan saya begini. Bikin tiwul. Lumayan kok,
hasilnya. Siapa bilang kalau tiwul itu makanan wong cilik? Miskin!”
tuturnya.


 


Mbok Tumirah adalah warga Desa Wonosari, Kecamatan Wonosari, Yogyakarta. Di
tempat asalnya itu, ia dijuluki sebagai juragan tiwul bermerek Yu
Tum
.


 


Bilik dapur berukuran sedang tadi merupakan kantor kerjanya. Peralatan di
ruangan itu pun bisa dibilang begitu sederhana. Hanya ada meja berukuran 1,5
meter ditambah lagi tiga tungku api dari batu bata berbalut semen yang selalu
menyala.


 


Aneka perabotan dapur pun tak tertinggal turut menyelip di balik dinding
gedhek
bambu itu. ”Sudah sepuluh tahun saya menggeluti tiwul manis,” kata
Mbok Tumirah, atau yang akrab disapa Yu Tum. ”Tapi, jangan salah lho?
Dari tempat ini, saya bisa memopulerkan Tiwul. Sampai dikenal kemana-mana,”
lanjutnya.


 


Mbok Tumirah memang boleh berbangga hati. Tiwul buatannya, Yu Tum,
berhasil merambah ke rumah-rumah mewah. Bukan cuma di Yogyakarta. Namun, masuk
pula sampai Jakarta. Malah, sejumlah warga asing ikut terpikat menyicipi makanan
khas Gunungkidul tersebut.


 


”Waktu itu kan ada pameran di Jakarta. Lalu, banyak warga Singapura
dan Malaysia datang. Mereka terus beli tiwul saya. Katanya, enak!”


 


Padahal, Yu Tum sendiri dulu tak pernah berpikir untuk mau mengembangkan
tiwul. Baginya, jenis makanan ini tak laik konsumsi. Tiwul adalah makanan orang
miskin. Simbol kelaparan. Dikonsumsi karena terpaksa. Setelah persediaan beras
habis.


 


Karena itu, semula dia lebih memilih berdagang di pasar Gunungkidul. Profesi
ini pun ia lakoni puluhan tahun. Namun, usahanya itu jatuh bangun. Malah, lebih
banyak buntungnya ketimbang raihan untung.


 


Suatu hari dia pun lantas berpikir. Mencari usaha alternatif. Nah,
pilihannya itu jatuh pada tiwul. Yu Tum menilai makanan itu kini telah langka.
Tiwul tergerus oleh beras sebagai salah satu menu bahan pangan utama. ”Banyak
yang tanya ke saya, ’Jual tiwul gak?’. Ini kan peluang.”


 


Pada mulanya, produksi tiwul Yu Tum juga terbatas. Hanya dijual ke
pasar dan masyarakat sekitar. Tapi, lama kelamaan peminatnya kian bertambah. Ia
pun terus meningkatkan jumlah pembuatan sembari memperbaiki kualitas
tiwulnya.


 


Apalagi, setiap ada tamu dari luar daerah, Pemerintah Kabupaten Gunungkidul
juga selalu menyajikan tiwul Yu Tum. ”Para tamu itu ketagihan lho mas sama tiwul
saya. Terutama yang tinggal di luar atau kota Yogya. Lain hari, mereka pasti
datang lagi ke sini. Beli banyak.”


 


Karena itulah, dari hari ke hari, jumlah pembeli tiwul Yu Tum terus
meningkat. Bahkan, sekarang setiap hari ia dapat menjual 100 kardus tiwul dan
gatot. Jumlah ini diperkirakan terus meningkat. Apalagi jika musim pemudik
lebaran sudah datang.


13167818681740888570


Pembeli tiwul di Wonogiri


 


 


 


Yu Tum menjual setiap satu paket kecil tiwulnya seharga Rp10 ribu dan besar
Rp12 ribu. Pembeli pun diberi pilihan, bisa minta tiwul saja, atau satu paket
termasuk gatot. ”Harganya sama kok!.”


 


Akibat permintaan yang terus berlimpah tersebut, kini Yu Tum harus menyetok
gaplek sampai satu ton per bulan. Tak sekedar itu saja, ia pun terus menambah
jumlah tenaga kerja menjadi enam orang dari semula hanya empat orang.


 


Lantas, bagaimana urusan modal? ”Tak ada masalah! Awalnya, saya memang
kesulitan. Tapi sejak permintaan terus meningkat, tak lagi ada hambatan akibat
modal kerja,” ungkapnya.


 


Dengan usahanya itu, kini Yu Tum mulai menenggek untung. Tiap hari dia
mendapat pendapatan bersih Rp300 ribu.


 


Yu Tum yang dulu bergelut langsung dengan urusan tepung gaplek, gula, nangka,
dan kelapa, sekarang pun mulai mengurangi pekerjaan kasarnya. Dia tinggal
memeriksa hasil karyawannya.


 


Kini, di usianya yang kian senja, Yu Tum bilang, ”Saya bahagia. Tak sekedar
karena tiwul laris. Tapi, bisa mengobati kerinduan masyarakat yang kangen sama
tiwul.” [!]


 






starfe 發表在 痞客邦 留言(0) 人氣()






agen bola,betting-Dari Mimpi Jadi Rezeki















【agen judi, agen bola, betting, bandar bola, baccarat, poker, games, agen bola ibcbet, agen bola terpercaya, agen bola tangkas, agen bola sbobet, situs judi bola, judi online, sbobet, ibcber】

Banyak juga yang bertanya, kenapa diriku mau-maunya membuka usaha di kota kecil yang bahkan di peta terlihat seperti debu yang bila ditiup pelan saja, menghilang. Akan tetapi menurutku itu merupakan tantangan tersendiri.


Harus aku akui, banyak juga tawaran menggiurkan datang di hadapanku, mulai dari kantoran yang setiap harinya duduk di ruangan berAC dengan gaji jutaan, konsultan, bahkan untuk menjadi seorang aktor di ibukota, tapi tekadku untuk kembali ke kota halaman lebih kuat.


Pada tahun 2006-2007 ketika aku sedang bertugas sebagai Kakang Malang, Duta Wisata Kota Malang, aku bertemu dengan teman-teman yang bercerita bahwa mereka sudah pernah datang ke Sabang, ditambah lagi ketika mereka tahu kalau aku berasal dari sana. Mereka bercerita dengan bangga namun ada nada sesal disana, mereka tidak menemukan souvenir yang memiliki kualitas bagus karena tidak ada alternative lain yang ditawarkan. Aku terharu dan berpikir ini merupakan peluang sekaligus tantangan untukku sebagai putra daerah.


Namun sekembalinya di kota halaman, harapan dan kenyataan seringkali jalan berlawanan arah. Aku drop!


Apalagi mendengar perkataan orang-orang, seorang lulusan sarjana, kerja sebagai penjual baju. Yang menjadi tantangan terbesar, ketika diriku bertemu dengan teman-teman dekat, kuceritakan tentang mimpiku untuk membuka sebuah usaha souvenir shop dengan konsep unik dan baru, mereka berkata,”kayaknya ngga mungkin, yang udah ada saja, jalannya seperti-seperti itu.”


Aku sempat lesu saat itu, teman-teman dekat saja tidak mendukungku, apalagi orang lain?.


Aku berpikir ulang, mengatur strategi, dan berkata dalam hati, INI MIMPIKU DAN INI HARUS TERWUJUD!


Kita kembali ke beberapa waktu silam, disinilah cerita Piyoh bermula.


Sejarah Piyoh Design (pd)


 


Aku memulai usaha Piyoh Design (pd) sejak tahun 2008 di sebuah kota kecil di ujung paling barat Indonesia. Mungkin sebagian besar orang Indonesia sudah mengenalnya melalui sebuah lagu anak-anak “dari Sabang sampai Merauke.”


Ya, usahaku mulai di Kota Sabang.


 


TKP (Tempat Kerjaan Piyoh)


 


Memulai dengan menyewa sebuah toko yang cukup luas tapi dengan kondisi yang lumayan mengenaskan, lantai berupa semen dan hampir semua bagian miring, jadi untuk saat itu modal yang kupunya Cuma cukup untuk mengisi barang-barang saja, untungnya saat itu ada bantuan-bantuan dari orang terdekat, mulai dari cat bangunan sampai rak-rak baju yang besarnya nauzubillah, walaupun kupikir, barang-barang yang diberikan tidak semuanya kubutuhkan, tapi apa boleh buat, namanya juga bantuan, diterima saja lah, itung-itung menyenangkan si pemberi dan rezeki ga boleh ditolak, nanti Allah marah.


 


Lokasi toko termasuk cukup strategis karena berada di pinggir jalan besar dan di samping kedai kopi. Namun kondisi yang menguntungkan ini juga mempunyai efek yang kurang baik untuk toko, selain debu yang sering masuk berterbangan, menyapu menjadi kerjaan rutin setiap saat, belum lagi puntungan rokok dan bungkus rokok dari kedai kopi menjadi langganan kerjaan setiap hari. Buka usaha itu butuh kesabaran yang cukup besar. Tapi aku percaya, dibalik pengorbanan akan ada rahasia yang indah.


 


Ide Piyoh Design (pd)


Bicara konsep Piyoh Design (Pd) adalah sebuah usaha yang bergerak dalam bidang produksi merchandise yang berusaha mengangkat tema-tema local, seperti potensi wisata, budaya dan lain-lain yang terkait dengan Kota Sabang. Yang menjadi produk utama Piyoh adalah t-shirt dengan desain-desain kontemporer yang memiliki misi “berbagi Sabang dimana aja”. Menurutku t-shirt adalah sebuah bahasa standar yang universal untuk menunjukan identitas dari mana kita berasal dan bisa diterima siapa saja. Sehingga nantinya produk-produk Piyoh Design selain menjadi souvenir bagi wisatawan yang datang juga dapat mempromosikan, mengenalkan Sabang dan yang menjadi tujuan utama adalah meningkatkan kebanggaan masyarakat Sabang terhadap kotanya sendiri.


 


Produk Piyoh Design lainnya dapat kita temukan juga dalam bentuk gantungan kunci, pin, stiker, mug, kartu pos, boneka Agam Inong, Tas dan lain-lain yang akan terus berkembang.


 


 


Piyoh, Sekenang kedar-kedaran dari Sabang


 


Nama Piyoh Design sendiri diambil dari kata dalam bahasa Aceh, yaitu “Piyoh” yang artinya mampir atau singgah. Aku memilih bahasa Aceh sebagai Merk dagang karena selain lebih akrab didengar dan aku berkeinginan untuk memperkenalkan merk lokal ke luar. Kata Piyoh sendiri menunjukkan keramah-tamahan masyarakat Aceh terhadap siapa saja yang datang ke Aceh atau yang dikenal dengan istilah Peumulia Jamee (Memuliakan Tamu).


 


Tantangan dimulai


Untuk membuka usaha ada baiknya kita melihat paling kurang 3 usaha lain yang bergerak di bidang yang sama, sehingga kita mengatur positioning kita dimana. Ada memang ada beberapa merk yang memproduksi kaos bertemakan Kota Sabang, akan tapi tidak ada alternatif desain yang ditawarkan dan kualitas bahan pun tidak menjadi pertimbangan. Ini merupakan peluang, aku memutuskan mengarapnya secara serius dengan target pasar menengah ke atas, kualitas dan keunikkan jadi prioritas utama Piyoh Design.


 


Tapi untuk itu juga aku harus melawan arus pasar. Memulai menjual produk Piyoh dengan brand yang baru dan sambil mengenalkan konsep yang cukup asing di masyarakat merupakan suatu tantangan tersendiri. Aku harus menggabungkan antara idealisme, kreatifitas dan industri. Hal itu tidaklah mudah, hampir semua orang pesimis. 80% orang yang kutemui, pada awalnya mengatakan bahwa usaha ini tidak akan berhasil. Tapi dukungan dari keluarga membuatku semangat lagi, walaupun sekali-kali ada tawaran untuk mengikuti ujian PNS. Fiuuuh….!!


 


Bagiku ketika orang lain mengatakan kondisi sekarang sedang buruk, justru ini bukan saat untuk meninggalkannya, ada baiknya kita masuk di dalamnya dan merubahnya menjadi lebih baik.


Pada tahun 2008 dari beberapa desain awal aku memproduksi kurang lebih 250 t-shirt, untuk produksi t-shirt aku juga masih menggunakan sistem bantu-membantu, jadi aku membantu teman yang mempunyai usaha konveksi, dia membantuku memproduksi orderanku. Selain menjual langsung di TKP (sebutan untuk Tempat Kerjaan Piyoh), aku juga menitipkan produk-produk Piyoh di daerah-daerah yang sering dilalui wisatawan, seperti di Pelabuhan Balohan dan Jalan Perdagangan Sabang. Sistem konsinyiasi (titip barang) pun kulakukan saat itu, untung sedikit tidak masalah, yang penting produk dikenal pasar dan duit berputar.


Strategi Piyoh menargetkan pasar untuk wisatawan dan orang yang mencari souvenir Sabang dengan kualitas bagus.


Strategi lain pun kumanfaatkan seperti media sosial yang lagi in saat itu, Facebook dan blog. Setiap ada desain-desain yang baru kuupload ke facebook ataupun ke blog, jadi dari sana aku belajar juga respon atau comment teman-teman tentang desain yang kutawarkan, setelah oke, cetak dan kirim ke alamat konsumen, biasanya aku menyebut konsumen Piyoh dengan sebutan Piyohlover. Alhamdulillah dengan bantuan teknologi tersebut Piyoh jadi lebih dikenal, Piyohlover bertambah dan penjualan meningkat. Kerjasama dengan dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Sabang dan Dinas Perindustrian dan Perdagangan pun mulai berdatangan, bazar, pameran, bakti sosial, ayo aja, semua peluang yang baik harus dicoba.


Peta Informasi Wisata versi Piyoh


Piyoh dan Extravaganza untuk korban Sumbar


Namun cobaan tak berhenti saat itu, orderan makin banyak ternyata tidak didukung oleh produsen yang memadai, terutama di bagian produksi Tshirt, Tshirt yang diorder tidak sesuai dengan jadwal yang ada. Alhasil aku harus mencari alternatif produsen lain, dan mencari produsen yang sesuai dengan kualifikasi Piyoh tidak semudah mencari Taxi di jalanan. Tantangan baru lagi.


 


Mencari produsen tshirt itu sama seperti memilih pasangan hidup, ada yang bagus di fotonya, tau-tau barang aslinya tidak sebagus fotonya, ada yang sesuai, tapi sudah punya orang. Mau tidak mau kita harus datang ke rumahnya, kalau sudah klop, minta ijin sama orang, kita bikin perjanjian untuk jalani usaha bareng dan berdoa semoga tidak cerai. Halah! ^^


 


Alhamdulillah, dengan konsepnya yang khas dan dan strategi marketing yang jelas, kini Piyoh Design bisa meraih omzet puluhan juta rupiah per bulan. TKP juga sudah milik sendiri dan dikelola sendiri. Selain itu Piyoh Design (pd) juga berhasil menjadi sebuah ikon brand Promosi Pariwisata Kota Sabang, dan dikarenakan permintaan dari Piyohlover, awal tahun 2011 Piyoh Design membuka cabang di Banda Aceh dengan nama Mister Piyoh, “berbagi Aceh dimana aja!”, yang berlokasi di sebelah Kedai Kopi legendaris di Aceh, Kopi Solong, Ulee Kareng.


Outlet Mr.Piyoh di Ulee Kareng, Banda Aceh


Piyoh dan Team The Hidden Paradise KompasTV


Piyoh dan Iwan Esjepe & Family (Indonesia Bertindak)


Piyoh Ke Depan


Untuk di masa mendatang Piyoh Design masih berusaha untuk mewujudkan cita-cita yaitu mengangkat pariwisata Indonesia melalui desain, dan akan memunculkan Piyoh-Piyoh Lain di daerah lain, yang harapannya nanti bisa menjadi duta wisata di daerahnya.


Tulisan ini dimuat di Buku Entrepreneur Writing Contest bareng esteler 77


 


 






starfe 發表在 痞客邦 留言(0) 人氣()






agen bola,betting-Dari Menjual Roti Hingga Merintis Usaha Warung Makan Sabili















【agen judi, agen bola, betting, bandar bola, baccarat, poker, games, agen bola ibcbet, agen bola terpercaya, agen bola tangkas, agen bola sbobet, situs judi bola, judi online, sbobet, ibcber】

Penulis : La Dawan Piazza


Pengarang Cerita Rakyat Modern


 


AKU BISA


“Pandanglah hari ini.Kemarin sudah menjadi mimpi.Dan esok hari hanyalah sebuah visi. Tetapi, hari ini yang sungguh nyata, menjadikan kemarin sebagai mimpi kebahagiaan, dan setiap hari esok sebagai visi harapan” – Alexander Pope


Aku berasal dari? Jawa merantau ke Maluku sejak kecil mengikuti orang tua yang mengadu nasib dan peruntungan di daerah transmigrasi di Maluku. Pada tahun 1998 aku datang ke kota Makassar untuk melanjutkan kuliah. Sebut saja namaku Mas Johan, aku datang ke kota yang sangat asing bagiku dengan berbekal modal pas-pasan dan ijazah SMU demi untuk kuliah di Unhas. Aku merantau ke Makassar dari pulau seberang di daerah Maluku sana, dengan modal seadanya, aku akhirnya sampai juga di Makassar untuk mengejar cita-citaku untuk melanjutkan kuliah.


Modal yang aku pegang pun hanya cukup untuk bekal UMPTN saja, tak terasa akhirnya akuditerima masuk di perguruan tinggi UNHAS. Perjuangan tidak berhenti sampai disini, karena aku sadari bahwa untuk melajutkan perkuliahan ini harus ada modal materi yang dimiliki.


Sebagai seorang perantauan dari tanah Jawa, orang tuaku yang hanya berprofesi sebagai petani dan penjual bakso tidaklah mampu mengirimkan aku uang kiriman setiap bulan dengan lancar seperti mahasiswa pada umumnya. Demi bertahan hidup ditengah kerasnya kehidupan kota Makassar dan untuk menekan biaya hidup kost-kostan. Aku memutuskan tinggal dan tidur di Mushallah Kampus Unhas dengan menempati ruangan bekas gudang berukuran 3 X 3 meter.


Selama kuliah sampai menyelesaikan gelar Sarjana S1 di UNHAS, aku tinggal di Mushalla tersebut. Untuk biaya makan tiap bulan aku memutuskan berjualan roti di? kampus dengan cara menitipkan ke kantin-kantin kampus unhas. Roti-roti yang aku titipkan ramai diserbu rekan-rekan mahasiswa hingga membuat aku tetap bisa bertahan hidup di Makassar.


Aku aktif di pengajian-pengajian yang sering diselenggarakan di Mushalla kampus hingga aku mengenal banyak teman-teman yang peduli dengan nasibku. Mereka sahabat terbaik bagiku tempat curhat dan berkeluh kesah di tengah sulitnya hidup di kota demi melanjutkan kuliah. Kadang-kadang mereka patungan mengumpulkan uang untukku sebagai ongkos buat makan aku tiap bulan, tetapi aku tidak ingin terus menerus membebani mereka maka kuputuskan untuk mandiri dan berusaha mencari penghasilan tambahan.


Pada? tahun 2002 aku melihat sebuah tanah kosong di Pintu II Unhas yang terbengkalai dan tidak dimanfaatkan sebagai tempat bisnis. Atas inisiatif dan dorongan dari teman-teman pengajian, aku didesak agar menyewa dan memanfaatkan lahan kosong tersebut untuk di jadikan tempat usaha kuliner bakso. Mereka pun patungan mengumpulkan uang untuk modal awal usaha kuliner bakso tersebut hingga akhirnya terkumpullah uang sebesar Rp. 500.000.


Tetapi karena aku tidak terlalu bisa memasak dan membuat resep masakan bakso, akhirnya aku memutuskan kembali ke Jawa untuk belajar membuat bakso kepada orang tua dan saudara-saudaraku hingga aku mahir memasaknya sendiri. Aku ke Jawa karena kebetulan keluargaku yang ada di Maluku sana semuanya sudah kembali ke Jawa setelah puluhan tahun tinggal di wilayah transmigrasi. Selama tiga bulan aku belajar masak bakso dan tahun itu juga aku kembali ke Makassar untuk melanjutkan kuliahku dengan membawa serta adik perempuanku untuk membantu memulai usaha kuliner bakso tersebut.


Kendala utama yang aku alami adalah modal usaha, modal sebesar Rp. 500.000 yang dikumpulkan teman-teman di Mushalla tidaklah cukup untuk menyewa tanah di Pintu II UNHAS? yang saat itu harga sewanya Rp. 1.000.000 per-tahun. Belum lagi ongkos membuat kios tempat usaha dan gerobak bakso serta bahan-bahan yang diperlukan.


Dengan modal nekad akhirnya kuputuskan untuk membuat? proposal bantuan modal usaha kepada Walikota Makassar dan Bupati Maros pada saat itu dengan janji akan mengembalikan modal pinjaman tersebut dalam jangka waktu satu tahun. Syukur Alhamdulillah proposal yang aku ajukan, diterima dengan baik oleh Walikota? Makassar? dengan memberikan modal awal sebesar Rp. 500.000 dan Bupati Maros sebesar Rp. 1.200.000.


Modal dari sumbangan pemerintah Kota Makassar dan Kab.Maros tersebut aku gunakan untuk menyewa lahan dan membuat gerobak serta kios. Setelah tempat usaha ini selesai dibuat, akhirnya kios baksoku kukasihnama WARUNG SABILI, karena kebetulan aku pembaca setia Majalah Islam terbesar di Indonesia. Awal memulai usaha ini aku hanya berjualan bakso saja tapi karena melihat banyaknya pembeli maka kuputuskan membuat resep Nasi Goreng, Nasi Campur, Nasi Ayam dll agar pembeli tidak bosan dengan menu yang itu-itu saja.


Perlahan tapi pasti warung tersebut mulai ramai dikunjungi para mahasiswa Unhas disela-sela waktu istirahat kuliah. Hingga akhirnya tidak sampai satu tahun aku berhasil mengembalikan modal pinjaman dari pemerintah daerah. Walhasil, melihat kusuksesan dan kegigihan saya dalam menjalankan bisnis kuliner ini Walikota Makassar dan Bupati Maros malah memberi aku lagi pinjaman lunak yang totalnya berjumlah Rp. 5.000.000, jumlahnya lima kali lipat dari modal awal saat aku pertama kali mengajukan proposal bantuan modal.


Berbekal tambahan modal tersebut aku memutuskan untuk membuka cabang baru di Jalan Bung Makassar yang sampai sekarang masih eksis dan mempekerjakan pemuda-pemuda pengangguran sekampung saya yang aku datangkan dari tanah Jawa. Usaha yang aku rintis dengan modal nekad tadi, akhirnya dapat menikahi seorang muslimah di Makassar sejak 2 tahun warung ini berjalan.


Walaupun usahaku mulai menunjukkan kemajuan pesat, namun aku masih sempat meluangkan waktu dan rezeki untuk berbagi dengan anak-anak yang kurang mampu dikawasan tersebut, aku menjadi salah satu donator buat sekolah khusus bagi anak jalanan yang kami dirikan bersama teman-temanku kuliahku.


Tahun demi tahun usaha yang aku geluti selama jadi mahasiswa Unhas semakin maju sehingga? pada tahun 2006 aku memutuskan menyewa ruko di Jalan Raya Perintis Kemerdekaan dengan desain dan interior yang modern di samping WARUNG LESEHAN PAK DANI yang lebih dahulu maju dan terkenal di Kota Makassar.


 


Tapi beberapa tahun terakhir Cabang yang aku buka berangsur-angsur ditutup karena terkena penggusuran oleh para kaum kapitalis bermodal besar sehingga menggusur semua usaha jajanan mahasiswa di Pintu II Unhas akibat perluasan pembangunan RS.Wahidin Sudirohusodo yang sempat didemo mahasiswa dan mengakibatkan bentrok fisik antara mahasiswa melawan aparat Satpol PP karena ingin membantu pengusaha kecil agar tempat ini tidak terkena gusuran. Mahasiswa membantu para pedagang dengan melakukan demonstasi karena tempat makan dan ngumpul-ngumpulnya kalau tengah malam kena gusur.


Akhirnya cabang Warung Sabili di ruko Perintis Kemerdekaan juga ditutup, karena aku tidak sanggup membayar sewa ruko yang mencapai 35.000.000 per-tahun, usaha kuliner kami juga harus bersaing dengan pengunjung dan penikmat jajanan kuliner langganan LESEHAN PAK DANI dan LESEHAN DAMAI. Aku memutuskan membuka cabang di Jl. Bulusaraung Makassar akibat ditutupnya cabang di ruko Jl. Perintis Kemerdekaan dengan menyewa bangunan tua yang harga sewanya lebih murah, agar bisa menekan biaya sewa ruko agar tidak terus merugi jika pembelinya berkurang.


Sekarang ini aku kembali ke tanah Jawa bersama istri yang aku persunting di Kota Makassar dengan hanya bermodal nekad tadi, aku kembali ke Jawa karena aku dan istriku diterima menjadi PNS dan membiarkan usaha yang aku rintis sejak awal dikelola oleh saudara-saudaraku yang lain. Dan mempekerjakan beberapa karyawan dari anak muda yang ingin maju dan hidup mandiri demi mengurangi pengangguran di negeriku ini yang tidak mampu mensejahterahkan rakyatnya.


 


Kisah diatas bisa memberikan kita inspirasi betapa dahsyatnya energi yang bisa ditimbulkan dari kemampuan untuk memotivasi diri “AKU BISA SUKSES DENGAN MODAL NEKAD”.Kadang kita tidak sadari bahwa ketika kita dalam keadaan terjepit atau kepepet sesuatu yang kita anggap tidak mungkin menjadi sangat mungkin untuk terjadi dan menjadi sederhana untuk dilakukan.


 


Catatan Penulis :


Kisah ini adalah hasil wawancara saya dengan pemilik Warung Sabili? Mas Johan pada bulan Desember Tahun 2006 saat saya bekerja sebagai Reporter Tabloid Bisnisman Makassar terbitan tahun 2006-2007. Walaupun kisah ini sebuah cerita lama yang sudah lama berlalu tapi saya kagum dengan perjuangan Mas Johan dalam merintis usahanya dengan modal nol persen, dia hanya berbekal modal nekad dan keberanian. Mungkin beberapa cerita dari kisah ini jika tidak sesuai dengan cerita aslinya karena saya sudah lupa dengan hasil wawancara saya tapi inti dari perjuangannya membesarkan Warung Sabili masih tersimpan dan terngiang-ngiang dikepalaku.


 


Warung Sabili di Jl. Bung Makassar


Foto : Muhammad Ridwan (3 Januari 2012)


Kunjungi juga blog saya : http://daone-kampungmayamacdhawanks.blogspot.com/2012/07/dari-menjual-roti-hingga-merintis-usaha.html






starfe 發表在 痞客邦 留言(0) 人氣()






agen bola,betting-Dapatkah Nissan Evalia Jadi Mobil Toko + Mobil Keluarga?















【agen judi, agen bola, betting, bandar bola, baccarat, poker, games, agen bola ibcbet, agen bola terpercaya, agen bola tangkas, agen bola sbobet, situs judi bola, judi online, sbobet, ibcber】

 


Sebagai sebuah kendaraan, tentu saja mobil tidak berfungsi hanya sebagai tempat berteduh saat hari hujan, berlindung dari debu di jalanan, sebagai angkutan barang dan penumpang di hari – hari tertentu saja, apalagi untuk disewakan sebagai mobil rental (aduh sayang, mobil baru direntalkan).


Adalagi sebuah kegunaan mobil yang selama ini luput dari pengamatan kita sehari – hari, yaitu mobil dapat di gunakan sebagai unit jualan keliling atau sebuah mobil toko, sehingga selain mobil berfungsi mengeluarkan duit kita dalam perawatan dan BBM serta kredit kepemilikan kendaraan bermotor (jika beli secara kredit). Mobil sebenarnya dapat digunakan sebagai sumber income passive dalam keuangan keluarga kita.


Keunggulan mobil toko dibandingkan ruang toko di pasar ataupun mall adalah system “jemput bola” moko (mobil toko) ke wilayah pemukiman masyarakat kota dan pedesaan, dapat menjual bermacam jenis barang, tentu dengan volume yang lebih kecil daripada ruang toko, serta tanpa harus mengubah bentuk mobil, moko tentu saja dapat di pakai juga sebagai kendaraan keluarga.


http://mimbarriau.com/


 


Namun apakah semua jenis mobil dapat di gunakan sebagai mobil toko keliling? Tentu tidak, sebaiknya mobil yang di gunakan sebagai kendaraan berniaga dan sebagai angkutan kluarga (berfungsi ganda) adalah MPV (multi Purpose Vechicle). Salah satunya adalah mobil Nissan Evalia, ada beberapa hal yang menarik keinginan saya sebagai sebuah mobil impian.


1. Dimensi kabin


Terus terang, dimensi ruang MPV Nissan Evalia secara umum lebih besar daripada kompetitornya,


dimensi kabin Nissan Evalia Panjang X Lebar X Tinggi (4.400 mm x 1.695 mm x 1.880 mm),


 


coba bandingkan dengan MPV untuk kelas yang sama :


 


Suzuki APV : Panjang x Lebar x Tinggi (mm) : 4.155 x 1.655 x 1.430


Daihatsu Luxio : Panjang x Lebar x Tinggi : 4.165 x 1,665 x 1.915


Suzuki Ertiga : PxLxT (4.265 mmx1.695 mmx1.685 mm)


All New Avanza : PxLxT : 4140×1660x1695 mm


(sumber : detik.com, batam safari, dan googling)


 


Selain itu, mobil Nissan Evalia juga memakai system pintu geser tentu akan memudahkan saat kita memakirkan kendaraan kita di tempat perkir yang dipenuhi oleh pejalan kaki tanpa menghalangi mereka beraktifitas sambil kita berjualan.


 


2. Konsumsi Bahan Bakar.


Nissan Evalia yang bermesin dual injector, dengan mesin bersilinder 1.500cc cukup hemat dalam konsumsi BBM dengan daya jelajah yang cukup luas, tanpa takut harus kehabisan minyak di dalam perjalanan.


Dibandingkan beberapa competitor yang sekelas dengannya. Boleh dibilang dengan pemakaian pertamax jenis Shell super, Nissan Evalina jelas lebih hemat dalam konsumsi BBM, berikut konsumsi beberapa MPV termasuk Nissan Evalia :


Nissan Evalia????? : Dalam Kota 1 L : 10,5 Km


Luar Kota 1 L : 12 Km


Konstan 100Km/Jam : 1 L : 15 Km


Suzuki APV ??????? : Dalam Kota 1 L : 8 Km


(1.5 Arena A/T) ? Luar Kota 1 L : 11 Km


Konstan 100Km/Jam : 1 L : 14 Km


All New Avanza : Dalam Kota 1 L : 9,6 Km


(1.5 G M/T)???????? ? Luar Kota 1 L : 11,5 Km


Konstan 100Km/Jam : 1 L : 14 Km


Daihatsu Luxio?? : Dalam Kota 1 L : 10 Km


(1.5 X A/T)?????????? ? Luar Kota 1 L : 12 Km


Konstan 100Km/Jam : 1 L : 15 Km


Sumber : tabloid otomotif edisi 10:XXII


Dengan dua alas an yang saya kemukakan di atas, kombinasi antara dimensi kabin MPV dan konsumsi BBM MPV Nissan Evalia membuat impian saya akan sebuah mobil yang memiliki dual fungsi Moko dan mobil keluarga telah terwujudkan.






starfe 發表在 痞客邦 留言(0) 人氣()






How Do I Start A Business And Still Have A Personal Life?
















 

I'm having trouble balancing being the founder of a startup and having a dating life. Can you give me some tips for making dating a priority while also being so immersed in a business that needs me?


-- Lisa T., Brooklyn, NY


The following answers are provided by the Young Entrepreneur Council (YEC), an invite-only nonprofit organization comprised of the world's most promising young entrepreneurs. The YEC promotes entrepreneurship as a solution to unemployment and underemployment and provides entrepreneurs with access to tools, mentorship, and resources that support each stage of their business's development and growth.



Accept the Challenge!

I don't care what people say, it's incredibly hard to run your own business and have a relationship. A relationship is something that needs to be fostered, needs effort, needs uniqueness and your business needs all the same things. You need to make time for a relationship and be able to turn off your business brain so you can focus on the other person.


Jason Sadler, IWearYourShirt.com



Try Dating Online

Dating is tough, especially as an entrepreneur. Luckily, while you may not have time to meet someone organically, companies like It's Just Lunch and Date & Dash make matchmaking for busy professionals easy. It may seem like a long shot, but I know some speed dating success stories!


Steph Auteri, Word Nerd Pro



Date a Fellow Entrepreneur!

What better way to balance love and business than with someone that understands your situation? Scour the plethora of dating sites out there for business executives or search the web for a niche dating site designed solely for entrepreneurs. Either way, you're bound to feel less guilty when you're trying to balance your life with someone that is struggling with the same concept.


Logan Lenz, Endagon



Mix Business with Pleasure

While women in the tech scene is rare, and you often are swarmed by men at startup gatherings, it is possible to pick up someone at the same hotel bar that your networking event is hosted at (other women will be at that bar too). It is also not a bad place to bring a date, who can get a glimpse into the life that you are so passionate about.


Danny Wong, Blank Label Group, Inc.



Shoot for a Similar Trajectory

When you're already committed to a business, you can't do a lot for someone who needs constant attention: it's a recipe for failure. You don't necessarily need to date another entrepreneur, but it's important to look for someone who is clearly not going to sit around waiting for your phone call. It takes planning to make that sort of relationship work, but it really does pay off.


Thursday Bram, Hyper Modern Consulting



Be Clear from the Start

If you're starting to date someone, seriously explain to them what it truly means when you say you're running your own business: you'll sometimes have to work long hours, bootstrap, have unexpected meetings, etc. Make sure they know what they're getting into.


Ben Lang, EpicLaunch



They're Dating You and Your Business

One of the biggest asset you'll have as an entrepreneur will be your partner; be sure this person understands the strains, sacrifices and trade-offs that you as an entrepreneur will have to make during your startup journey. Having the right partner is empowering, having the wrong partner can generate immense stress-on top of building a business. Choose wisely!


Tony Navarro, Streamcal



Stick to a Schedule

You must have dedicated times throughout the day and week where work is just not allowed. Just because you can (and feel like you need to) work 24/7 doesn't mean you should. There will always be more to do, but time out of the office is where the magic happens anyway. Start with one night a week from a certain time on where no technology is allowed. Build a habit, then go for two or three.


Scott Dinsmore, Live Your Legend & Cumbre Capital



Make a Date Night

If you're already in a relationship, pick one night of the week where you go out and do something for a solid four hours with your significant other. No phones, no business, just the two of you. Taking at least one night a week to focus on the other person will go a long ways towards the quality of relationship-as well as the business.


Sean Ogle, Location 180, LLC



Double the Fun!

To find time for dating when you have so little spare time, it's best to look for someone who enjoys the same activities that you would do even while you're single. When you can run or attend a concert or watch your favorite TV program together, your relationship can develop without huge amounts of additional time investment.


Elizabeth Saunders, Real Life E®



Ask for Help!

I love the quote, "You can have it all, but you can't do it all." If you want to have a dating life, you can't do everything yourself. This might mean hiring more people for your startup or delegating more responsibilities. It might also mean hiring someone to clean your home, grocery shop for you, or even help you find singles in your area. Prioritize and make it happen!


Nathalie Lussier, Nathalie Lussier Media



 






starfe 發表在 痞客邦 留言(0) 人氣()






How Do I Go Into Business With My Spouse?
















 

I'm thinking about going into business with my spouse and want to come up with a checklist to make sure that it is a good decision. What yes/no questions should I include in my checklist?


-- Morry G., South Beach, FL


The following answers are provided by the Young Entrepreneur Council (YEC), an invite-only nonprofit organization comprised of the world's most promising young entrepreneurs. The YEC promotes entrepreneurship as a solution to unemployment and underemployment and provides entrepreneurs with access to tools, mentorship, and resources that support each stage of their business's development and growth.



Are we prepared for major changes in our marriage?

No matter how well-delineated your roles are, no matter how well you get along, no matter how often you do "date night," the fact is that when you run a business together, your marriage changes. When the business is going well, this can be deeply satisfying; when things crash and burn, your relationship takes a hit too. You'll never see your spouse the same way again-can you handle that?


Lindsey Donner, Well Versed Creative



Is our marriage more important than business?

If yes, then you need to make sure you both completely understand your roles and responsibilities in the office and in the home. Men may have a tendency to 'be the boss' in the office but that kind of attitude in the kitchen may result in a skillet to the forehead. To avoid misery, keep love at the top of your priority list, keep "work talk" in the office, and keep "pillow talk" in the bedroom.


Steven Staley, Playbook Community



Can we afford it?

Without one person holding down a stable day job, your family may not have the money to finance a startup. You don't want to jeopardize your livelihood and dig a hole that will be difficult to emerge from.


Alexandra Levit, Inspiration at Work



Do we share the same business values?

Chances are that if you're married, you have similar values when it comes to life choices. Do your values also line up when it comes to business? For example, in my relationship, we approach making changes from two complete different angles. However, we have the same end goal and values in mind, so both methods would lead us to our goals.


Nathalie Lussier, Nathalie Lussier Media



Do we manage business-like life decisions well?

Behavioral based checklists are helpful but they rarely paint an accurate depiction when stress, lack of sleep, pressure, power and money enter the picture. Look to your existing library of life-experiences that have involved these things mentioned here and analyze-as objectively as you can-how you both behave when encountering these elements in a business setting.


Kent Healy, The Uncommon Life



Can we come to agreements peacefully and sensibly?

Whether it's with a mediator or some complicated set of rules and criteria, it is important that decisions can be made and that the business can move on. At the end of the day, if there are two people in a power struggle, you cannot let your egos get in the way, and must do what is best for the business.


Danny Wong, Blank Label Group, Inc.



Can you leave business at the office?

Too many times, spouses or families that work together bring their business home with them. As an entrepreneur, you will do work around the clock but you also need to know when to separate work from home. Talking business 24/7 may lead to burn out, fights and tension. Make sure you can both agree to not drag business home and take time for each other outside the business.


Ashley Bodi, Business Beware



Can we afford to work outside of the home?

My husband and I have run our business together for two years. We had a home office in our first year, and the second year we moved into an office outside of our home. I highly recommend the latter to create a better separation between work and life. If you're bootstrapping, you may not have the luxury of an outside office right away, but consider where it falls in the roadmap.


Allie Siarto, Loudpixel



Will we continue to work on our personal relationship?

I've have the pleasure of working with my wife for the last 3 years at my startup. We have a great relationship, both personally and professionally. One of the most important things we've done was to make sure that when we're not working, we don't discuss work issues. Try to take your mind of work, and don't devolve your marriage into a business partnership only.


Eric Bahn, Beat The GMAT



Can we commit to occasional separation?

Business partners who are romantically involved with one another need to have a life outside of each other. Being in a relationship with someone doesn't mean you have to spend every waking hour with each other, especially in stressful situations. Make sure you set guidelines and have some time away from one another to let your relationship recharge.


Matt Wilson, Under30CEO.com



Should I really be sleeping with my business partner?

Pick up the book "Sleeping With Your Business Partner: A Communications Toolkit for Couples in Business Together" by Dr. Mike Gross and Dr. Becky Stewart-Gross. Work through the exercises together and gain some clarity so you feel 100 percent confident with whatever decision you both make.


Natalie MacNeil, She Takes on the World



 






starfe 發表在 痞客邦 留言(0) 人氣()






How Do I Ask For A Raise From My Boss?
















 

What is your No. 1 tip for asking for a raise from your boss?


-- Cormac J., Columbus, OH


The following answers are provided by the Young Entrepreneur Council (YEC), an invite-only nonprofit organization comprised of the world's most promising young entrepreneurs. The YEC promotes entrepreneurship as a solution to unemployment and underemployment and provides entrepreneurs with access to tools, mentorship, and resources that support each stage of their business's development and growth.



Ask...Don't Beg!

Your boss doesn't care that your commuting costs went up, that you're supporting another child, or that your spouse lost her job. Don't lead with why you need more money. Instead, make a case for how you've helped your company become even more profitable. Sure, you may need the money. But make it clear that you also deserve it.


Steph Auteri, Word Nerd Pro



Make a Commitment

In addition to showing that you deserve a raise due to outstanding past performance, make your boss a few promises about how you will continually improve yourself and your work, so that the company will continue to benefit for years to come. That will show your boss that you will be a long-lasting valuable asset.


Danny Wong, Blank Label Group, Inc.



Reel In Responsibility

When your employer has been paying you a certain rate for certain work, it's natural that she's going to feel like she needs to getting more for any raise she offers. Since it's unlikely that you'll put in more hours, think in terms of the role you play and where you can take on more responsibility to help the business grow.


Thursday Bram, Hyper Modern Consulting



Gain Some Leverage

If you make yourself an invaluable part of your company, then you'll have a lot more leverage in your negotiations. Take on responsibilities that add value and have measurable results. If you can go to your boss and say that you are responsible for huge numbers and possess knowledge that is irreplaceable to the operations of the business then your boss will be forced to pay you to keep you happy!


Matt Wilson, Under30CEO.com



Make Your Pitch Matter

You basically get one shot at asking, either at your annual review or at some moment you say "enough is enough." So be prepared to make the pitch count: don't use words like "I feel" or "I think;" instead, bring to the table a list of projects you worked on, review the value they bring to the company, explain how you to plain to raise your game, and how the work you do pays for itself.


Jerry Piscitelli, Portopong LLC



Confidence, Not Cockiness

Always show confidence, but don't ever act arrogant. Confidence is appealing and shows your boss that you believe in yourself and your skills, and that you are grateful for the opportunity. However, arrogance is a turnoff and will rub your boss the wrong way while also not conveying your inner message-that you care about your boss and want to continue to see the company succeed.


Steven Le Vine, grapevine pr



See the Pitch Differently

When you frame the act of asking for a raise as a fun, creative, and confidence-building activity, you put your focus on what you can control-making the ask. Plus, you alleviate nervousness. As a result, when you open your mouth, you are more likely to project confidence, make a compelling argument, and enjoy the experience a whole lot more.


Alexia Vernon, Catalyst for Action



Timing Is Everything

You will increase your chances of success if you ask your boss during an opportune time. Some favorable situations to look for: company releases higher than expected quarterly earnings, public recognition of a job well done, or a situation where your boss is in a good mood.


Anthony Saladino, Kitchen Cabinet Kings



Remember, It's a Numbers Game

Hopefully you're already tracking and measuring everything you do at your job. If so, design an impressive chart or graph that definitively displays the the monetary value you have created for the company. Throw in your current salary and calculate their internal profits from your work. Present this to your boss and strongly state your case.


Logan Lenz, Endagon



The 3 P's: Perspective, Practice and Proactivity

Make sure you get a clear understanding of what is important to your boss and to your company. It's about their perspective-not necessarily yours-when positioning the conversation. Be sure to practice what you are going to say and how you will respond to possible answers. Lastly, be proactive in asking what it takes to get a raise. Go for it.


Michael Bruny, AmbassadorBruny.com



The Respectful ROI Approach

Be respectful and talk about the ROI you provide to the company. It's important to understand that your boss has a job to do too, including watching the budget. When discussing a possible raise, make your case objectively and respectfully. Use the numbers and stats to quantify the value you add, but be careful not to force an ultimatum.


Nick Friedman, College Hunks Hauling Junk



Get Another Offer

The bottom line is that you are worth what someone is willing to pay you. The most compelling argument you can make for a raise is that you have other written offer(s) on the table and that you would consider staying if your boss can give you a high-enough counter offer. (Only use this tactic if you are willing to follow through, i.e. leaving or staying based on the strength of the counter offer.)


Elizabeth Saunders, Real Life E®



 






starfe 發表在 痞客邦 留言(0) 人氣()






How Discretionary Income Changes During A Lifetime [Infographic]
















 

Ahhh, discretionary income. What most Americans wouldn't do to have more of it. It's the amount of money we have left over after paying for life's necessities -- food, clothing, shelter -- that goes toward buying fun stuff, such as iPads, vacations, jewelry or new cars, and more serious things, such as health care and education.


The amount of discretionary income depends on how much you make, of course. Generally, the more you make, the more money you likely have to blow on the latest gadgets and widgets. But age is also a factor.


 


For example, those under 25 years old make much less than those older, but they have the greatest percentage of discretionary income -- 85 percent. That's not surprising since many people in their late teens and early 20s may still be living at home -- reducing the amount that they must lay out for rent, food and utilities, and they typically are in pretty good health. The largest portion of discretionary income -- 6.2 percent -- at this stage most likely goes toward clothing.


As young adults transition to work life, they begin earning considerably more money, but also start taking on financial obligations such as rent, mortgages and car loans. That means a smaller percentage of their income -- 63 percent -- is available for spending discretionary expenses, with the biggest expenditures equally divided between clothing and health care.


By the time they reach their mid-30s, many Americans begin to take on expenses related to raising children, further reducing the percentage of discretionary income that they have available. During these family years, incomes may rise, but that's no guarantee of more "pocket money"-- many may find that they have far less than they did just a few years ago. Clothing and health care remain the biggest outlays of discretionary income.


Fortunately, children do grow up, so by the time average Americans reach middle age they're once again able to spend a bit more freely on life's frivolities, with about half of their income available for discretionary spending. As much as 13 percent, however, goes toward health-care expenses.


Once in retirement, the percentage of income available for use on discretionary purchases is second only to the under-25 group. Not surprisingly, however, the greatest amount -- 17 percent -- is spent on health care.


For more on how Americans spend their income as they move through life, check out this inforgraphic from Milo, a local-shopping website.


 


from Milo








starfe 發表在 痞客邦 留言(0) 人氣()






How Can I Get An Unadvertised Job?
















 

Q: How should I ask employers about job opportunities that aren't advertised on their website or on job boards?


A: Just because a company isn't advertising any open positions doesn't mean they aren't looking to hire. As MainStreet has reported before, many job openings are never posted to job boards or company websites. Instead, they are either filled based on recommendations within the company or the position is specially created with someone in mind.



For that reason, job hunters can't afford to sit around and wait for the ideal job posting to go up. There's no guarantee that opportunity will ever be posted and even if it is, you'll have to compete with every other job seeker who sees it. The better option is to be more proactive and reach out to potential employers unprompted, but how you go about it depends on the company.


Heather Huhman, a career counselor and founder of the recruiting public relations firm Come Recommended, says that the secret to scoring a job at a small- or medium-size business is to research what the company's needs are and figure out how you are uniquely qualified to fill that need. This can work particularly well if the company has just expanded into a new area (for example, if a website has added a new section) or if the company has recently hired a manager who may need help in his/her new position.


"Do your own analysis of what they are doing in your realm and what they could be doing better. They may not even know what their needs are," Huhman says.


Once you've nailed this down, Huhman recommends using LinkedIn or the company's website to track down the name and contact information of a manager in the department you'd like to work for, and then drafting an email to that person. The message should start with a brief summary of who you are and what your qualifications are for the job, and then dive into your analysis of what they could do better and how you can help them. Needless to say, the message should be polite and tactful, not so critical that it makes the manager offended.


This tactic may not work quite as well at a large business, according to Huhman, simply because bigger corporations tend to have a clearer sense of what they need. Instead, she recommends building a relationship with someone inside the company who can keep you in mind for future job opportunities. The best way to do this is by emailing a manager and asking for an informational interview about the business and the profession. That said, you need to approach it as a serious interview and come prepared with thoughtful questions that impress the manager. If you just start out the interview by asking for a job, you'll make a bad impression.


What you should never do is simply call a manager you've never met out of the blue and ask about job opportunities. That's not networking, it's just annoying. Just think about how you would respond if someone did that to you.



Seth Fiegerman is a staff reporter for MainStreet. You can reach him by e-mail, or follow him on Twitter.



 






starfe 發表在 痞客邦 留言(0) 人氣()






How 'Bad Bosses' Drive Employees Mad [Infographic]
















 

The most productive workers are often thought of as those who love their work. But even the best of workers can be hampered by poor leadership.


Further evidence of that is contained in new research which shows that leaders who lack empathy demonstrate poor leadership skills, and a significant number of them are ineffective as managers. Moreover, a report released this week by talent-management company DDI shows that many managers frequently fail to ask workers for their ideas and input, are poor communicators and don't provide sufficient feedback on employee performance.


The survey, which polled nearly 1,300 workers in the U.S. and U.K., Australia, Canada, China, India, Germany and three countries in Southeast Asia, found that many would rather endure a bad hangover, do housework or view credit-card bills rather than sit through a job-performance review with their boss.


Results also showed that a majority -- 60 percent -- reported that their bosses sometimes, most of the time or always damage employees' self-esteem. A majority also said they don't now work for the best boss they've had. And of those, nearly 80 percent of respondents said they could boost their output by as much as 60 percent if only they worked for their "best-ever" boss.


In other words, DDI says, if every two to three people were managed by their "best-ever" leaders, there would be a productivity gain equal to another person.


The study also showed a staggering difference in the motivation among employees who work for best or worst managers, based on respondents' perceptions. Of those who reported working for a good boss, 98 percent said they felt motivated to give their best, compared to just 11 percent for employees who worked for a bad boss.


Similarly, 94 percent of those with good bosses said their managers did a good job helping them be more productive, while only 5 percent of those with bad bosses said the same.


"Leaders remain stubbornly poor at these fundamental basics of good leadership that have little to do with the current challenging business climate," says Simon Mitchell, DDI director and co-author of the report.


"It's important that organizations equip the people managing their workforce with these basic leadership essentials, and that managers are aware of their own blind spots in these areas," says Mitchell, in a statement accompanying the report's findings.


The good news, he says, is that bad managers can improve their management skills through training.


Among other findings in DDI's report, "Lessons for Leaders from the People Who Matter," researchers found:


More than a third (35 percent) of respondents say their bosses only listen to their workplace concerns sometimes or never.A third (34 percent) of bosses single out certain employees as "favorites" either most of the time or always.Only half (51 percent) say their manager asks for their help in solving problems most of the time or always, and 45 percent say their boss "only sometimes or never" gives sufficient feedback on their performance.Unsurprisingly, two out of every five (39 percent) respondents say they have left a job primarily because of their manager or leaders, and 55 percent say they have considered leaving a job because of their leader.

For more about "bad bosses" and how they fall down on the job, check out this infographic from theFIT, a website that provides job seekers with inside information about potential employers.









starfe 發表在 痞客邦 留言(0) 人氣()

Blog Stats
⚠️

成人內容提醒

本部落格內容僅限年滿十八歲者瀏覽。
若您未滿十八歲,請立即離開。

已滿十八歲者,亦請勿將內容提供給未成年人士。