agen bola,betting-Dari Wonosari, Tiwul
Mendunia




【agen judi, agen bola, betting, bandar bola, baccarat, poker, games, agen
bola ibcbet, agen bola terpercaya, agen bola tangkas, agen bola sbobet, situs
judi bola, judi online, sbobet, ibcber】

 

YU TUM adalah merek tiwul asal
Wonosari. Keberadaannya, tak sekedar membuka mata bila produk asal singkong,
makanan ‘kaum pinggiran’ ini memiliki penggemar dan mampu menjadi garapan
penyambung hidup bagi pembuatnya. Terlepas dari semua itu, geliat Yu Tum
mengelola bisnis tiwul, bisa menjadi penyemangat program diversifikasi pangan di
negeri ini yang kian meredup. Di saat makin mahalnya harga pangan biji-bijian
dunia. Padahal, sejak digagas 44 tahun silam, program diversifikasi pangan
disebut-sebut sebagai solusi ampuh menekan beban subsidi pemerintah, di samping
upaya mengatasi ancaman krisis pangan di Indonesia.

 

1316781483675862366

1316781773800262180

Tiwul merek Yu Tum

 

 

 

Keringat jatuh dari muka Mbok Tumirah. Di sebuah dapur berdinding geribik
itu, ia tampak begitu sibuk menyelesaikan kukusan singkong rebusnya.

 

Wajah Mbok Tumirah terlihat beranjak renta. Kulitnya pun tampak mengkriput.
Maklumlah, tiga bulan lagi usianya genap 80 tahun.

 

Namun, meski begitu, kedua tangan Mbok Tumirah tetap saja cekatan
membolak-balik rebusan penuh singkong dalam wadah panci besar itu. Ia laiknya
ibu baru berumuran empat puluhan tahun. Mbok Tumirah memang tampak masih amat
bertenaga.

 

Sesekali, tawa pun riuh pecah di antara letupan bunyi tungku kayu bakar
miliknya. Sore itu, dia memang tak bekerja sendirian. Ada empat orang lain turut
hilir mudik membantu. Kesemuanya perempuan setengah baya.

 

”Hampir tiap hari pekerjaan saya begini. Bikin tiwul. Lumayan kok,
hasilnya. Siapa bilang kalau tiwul itu makanan wong cilik? Miskin!”
tuturnya.

 

Mbok Tumirah adalah warga Desa Wonosari, Kecamatan Wonosari, Yogyakarta. Di
tempat asalnya itu, ia dijuluki sebagai juragan tiwul bermerek Yu
Tum
.

 

Bilik dapur berukuran sedang tadi merupakan kantor kerjanya. Peralatan di
ruangan itu pun bisa dibilang begitu sederhana. Hanya ada meja berukuran 1,5
meter ditambah lagi tiga tungku api dari batu bata berbalut semen yang selalu
menyala.

 

Aneka perabotan dapur pun tak tertinggal turut menyelip di balik dinding
gedhek
bambu itu. ”Sudah sepuluh tahun saya menggeluti tiwul manis,” kata
Mbok Tumirah, atau yang akrab disapa Yu Tum. ”Tapi, jangan salah lho?
Dari tempat ini, saya bisa memopulerkan Tiwul. Sampai dikenal kemana-mana,”
lanjutnya.

 

Mbok Tumirah memang boleh berbangga hati. Tiwul buatannya, Yu Tum,
berhasil merambah ke rumah-rumah mewah. Bukan cuma di Yogyakarta. Namun, masuk
pula sampai Jakarta. Malah, sejumlah warga asing ikut terpikat menyicipi makanan
khas Gunungkidul tersebut.

 

”Waktu itu kan ada pameran di Jakarta. Lalu, banyak warga Singapura
dan Malaysia datang. Mereka terus beli tiwul saya. Katanya, enak!”

 

Padahal, Yu Tum sendiri dulu tak pernah berpikir untuk mau mengembangkan
tiwul. Baginya, jenis makanan ini tak laik konsumsi. Tiwul adalah makanan orang
miskin. Simbol kelaparan. Dikonsumsi karena terpaksa. Setelah persediaan beras
habis.

 

Karena itu, semula dia lebih memilih berdagang di pasar Gunungkidul. Profesi
ini pun ia lakoni puluhan tahun. Namun, usahanya itu jatuh bangun. Malah, lebih
banyak buntungnya ketimbang raihan untung.

 

Suatu hari dia pun lantas berpikir. Mencari usaha alternatif. Nah,
pilihannya itu jatuh pada tiwul. Yu Tum menilai makanan itu kini telah langka.
Tiwul tergerus oleh beras sebagai salah satu menu bahan pangan utama. ”Banyak
yang tanya ke saya, ’Jual tiwul gak?’. Ini kan peluang.”

 

Pada mulanya, produksi tiwul Yu Tum juga terbatas. Hanya dijual ke
pasar dan masyarakat sekitar. Tapi, lama kelamaan peminatnya kian bertambah. Ia
pun terus meningkatkan jumlah pembuatan sembari memperbaiki kualitas
tiwulnya.

 

Apalagi, setiap ada tamu dari luar daerah, Pemerintah Kabupaten Gunungkidul
juga selalu menyajikan tiwul Yu Tum. ”Para tamu itu ketagihan lho mas sama tiwul
saya. Terutama yang tinggal di luar atau kota Yogya. Lain hari, mereka pasti
datang lagi ke sini. Beli banyak.”

 

Karena itulah, dari hari ke hari, jumlah pembeli tiwul Yu Tum terus
meningkat. Bahkan, sekarang setiap hari ia dapat menjual 100 kardus tiwul dan
gatot. Jumlah ini diperkirakan terus meningkat. Apalagi jika musim pemudik
lebaran sudah datang.

13167818681740888570

Pembeli tiwul di Wonogiri

 

 

 

Yu Tum menjual setiap satu paket kecil tiwulnya seharga Rp10 ribu dan besar
Rp12 ribu. Pembeli pun diberi pilihan, bisa minta tiwul saja, atau satu paket
termasuk gatot. ”Harganya sama kok!.”

 

Akibat permintaan yang terus berlimpah tersebut, kini Yu Tum harus menyetok
gaplek sampai satu ton per bulan. Tak sekedar itu saja, ia pun terus menambah
jumlah tenaga kerja menjadi enam orang dari semula hanya empat orang.

 

Lantas, bagaimana urusan modal? ”Tak ada masalah! Awalnya, saya memang
kesulitan. Tapi sejak permintaan terus meningkat, tak lagi ada hambatan akibat
modal kerja,” ungkapnya.

 

Dengan usahanya itu, kini Yu Tum mulai menenggek untung. Tiap hari dia
mendapat pendapatan bersih Rp300 ribu.

 

Yu Tum yang dulu bergelut langsung dengan urusan tepung gaplek, gula, nangka,
dan kelapa, sekarang pun mulai mengurangi pekerjaan kasarnya. Dia tinggal
memeriksa hasil karyawannya.

 

Kini, di usianya yang kian senja, Yu Tum bilang, ”Saya bahagia. Tak sekedar
karena tiwul laris. Tapi, bisa mengobati kerinduan masyarakat yang kangen sama
tiwul.” [!]

 

創作者介紹
創作者 starfeeling 的頭像
starfe

starfeeling

starfe 發表在 痞客邦 留言(0) 人氣( 10 )