agen bola,betting-Kasus Hambalang, Tinjauan Aspek Profesionalisme Dunia Konstruksi


【agen judi, agen bola, betting, bandar bola, baccarat, poker, games, agen bola ibcbet, agen bola terpercaya, agen bola tangkas, agen bola sbobet, situs judi bola, judi online, sbobet, ibcber】

Ambruknya dua bangunan gedung di Proyek Hambalang segera saja menguak aroma busuk sekitar proyek tersebut, yang sebelumnya ditutup-tutupi. Ocehan Nazaruddin yang sebelumnya dianggap halusinasi dari orang yang panik, kini seakan mendapat dukungan dari “alam”. Yang lebih seru, gara-gara pernyataan Andi Mallarangeng yang “hanya meneruskan pendahulu saya”, kontan membuat Adhyaksa Dault marah besar, dan menantang Andi untuk buka-bukaan soal proyek tersebut.

Setelah sebelumnya ada tulisan yang melihat dari sisi lingkungan, yang berjudul “Ada Apa dengan AMDAL Hambalang?”, kali ini saya akan membahas kasus Hambalang dari sudut pandang dunia konstruksi. Terkait proyek Hambalang, saya menemukan kejanggalan yang menyalahi profesionalisme dalam dunia konstruksi. Seperti diungkapkan oleh peneliti ICW, Febri Diansyah, Diduga kualitas spesifikasi konstruksi bangunan di bawah standar. Hal ini terjadi karena pengerjaan proyek Hambalang yang dikerjakan oleh KSO PT. Adhi Karya dan PT. Wijaya Karya, disubkontrakkan hingga beberapa lapis. Subkontraktor diketahui mencapai 17 perusahaan, termasuk PT Dutasari Citralaras, yang mensubkan lagi ke PT Bestido dan PT Kurnia Mutu. Ungkapan disubkontrakkan hingga beberapa lapis, inilah yang membuat saya merasa perlu untuk membuat tulisan ini.

Hubungan Antara Kontraktor Utama dan Subkontraktor

Dalam sebuah proyek konstruksi, maka akan terlibat pihak-pihak dalam hubungan kerja di proyek tersebut, yaitu pemberi tugas (owner), perencana, konsultan pengawas (MK) dan kontraktor. Dalam pelaksanaannya, kontraktor akan mensubkan lagi bagian-bagian pekerjaan pada subkontraktor spesialis. Saya perlu menggarisbawahi kata spesialis, untuk membahas kejanggalan pada proyek Hambalang di atas.

Sebelumnya perlu disampaikan definisi kontraktor utama, yaitu kontraktor utama yang mengendalikan seluruh pekerjaan dan mengatur schedule proyek dan bertanggung jawab langsung kepada owner (pemberi tugas). Sedangkan subkontraktor adalah kontraktor-kontraktor baik skala besar maupun kecil, yang bekerja dibawah kendali kontraktor utama dan bertanggung jawab kepada kontraktor utama. Jadwal kerja, instruksi, metode dan standar-standar pekerjaan harus mengikuti standar dan ketentuan yang ditetapkan oleh kontraktor utama.

Pada proyek-proyek swasta, selain subkontraktor yang menerima pekerjaan dari kontraktor utama, ada juga subkontraktor yang langsung menerima pekerjaan dari owner. Namun dalam pelaksanaan pekerjaan di lapangan, tetap harus mengikuti metoda/standar kerja, dan ketentuan-ketentuan yang ditetapkan oleh kontraktor utama. Tidak ada perlakuan khusus terhadap subkontraktor yang mendapat pekerjaan langsung dari owner. Hal ini karena, hasil pekerjaan secara keseluruhan tetap menjadi tanggung jawab kontraktor utama terhadap owner. Setidaknya inilah yang diberlakukan di kontraktor tempat saya bekerja, untuk menjamin kualitas hasil kerja yang memenuhi standar yang ditetapkan oleh kontraktor utama, untuk dipertanggungjawabkan kepada owner.

Namun untuk proyek-proyek pemerintah, tidak dikenal subkontraktor yang mendapatkan pekerjaan langsung dari owner. Owner untuk pekerjaan proyek pemerintah hanya berhubungan dengan kontraktor utama. Yang ada, mungkin adalah “subkontraktor titipan” (yang tidak dikenal secara legal). Nah, inilah yang jadi masalah. Apakah PT. Dutasari Ciptalaras adalah subkontraktor titipan?

Subkontraktor Adalah Kontraktor Spesialis

Sepanjang pengalaman saya bekerja di kontraktor, semua subkontraktor yang bekerja dibawah kendali kontraktor utama adalah spesialis di bidangnya.? Karena itu dapat saya sebutkan beberapa subkontraktor spesialis untuk pekerjaan struktur misalnya subkon pancang subkon waterproofing dan subkon bekisting. Untuk pekerjaan arsitektur, ada subkon pintu jendela, subkon plafond, subkon painting (pengecatan), subkon lantai & dinding granit (dry system), dan sebagainya. Sedangkan pada pekerjaan mekanikal elektrikal, ada subkon plumbing, subkon instalasi listrik, subkon instalasi AC, subkon pengolahan limbah, subkon instalasi pemadam kebakaran & equipment, dan sebagainya.

Pekerjaan yang langsung dikerjakan sendiri oleh kontraktor utama biasanya mencakup pembesian struktur, pengecoran beton, pekerjaan pasang bata dan plesteran, serta pekerjaan lantai dan dinding keramik (wet system). Jadi sebenarnya hanya sedikit yang dikerjakan langsung oleh kontraktor utama. Tapi kontraktor utama tetap bertanggung jawab penuh kepada owner, atas semua pekerjaan, termasuk yang dikerjakan oleh subkontraktor. Oleh karena itu kontraktor harus lebih konsen dengan memberikan arahan tentang standar dan metode kerja yang ditetapkan, mempersiapkan dan mengkoordinasikan shop drawing, serta mengontrol dan mengawasi pekerjaan subkontraktor, sehingga tercapai hasil kerja sesuai standar kerja yang ditentukan.

PT. Dutasari Ciptalaras, Subkontraktor Super?

Ada hal yang mengejutkan ketika membaca di media online, tentang posisi PT. Dutasari Ciptalaras. Seorang petugas keamanan proyek Adhi Karya, Apay, menyatakan PT Dutasari merupakan subkontraktor di Bukit Hambalang. “Dutasari itu merupakan subkon (subkontraktor) seluruh proyek Hambalang,“ kata Apay. Hal ini juga pernah ditegaskan oleh Sekretaris Perusahaan PT Adhi Karya, Kurnadi Gularso, bahwa perusahaannya bekerja sama dengan PT Dutasari Citralaras. “(Dutasari) mengerjakan proyek Adhi sudah sejak lama,“ katanya kepada Tempo, beberapa waktu lalu. Baca selengkapnya di sini.

Hampir semua keanehan dalam pelaksanaan proyek di Hambalang mengerucut pada PT. Dutasari Ciptalaras. Berikut beberapa keanehan yang saya indikasikan tidak sejalan dengan profesionalisme di dunia konstruksi.

1.? PT. Dutasari Ciptalaras, subkontraktor spesialis apa?

  • Terus terang saya agak kesulitan mencari data, bergerak di bidang apakah PT. Dutasari Ciptalaras? Di tempat saya bekerja, sebagai kontraktor swasta berskala nasional, tidak ada database PT. Dutasari Ciptalaras pada daftar rekanan subkontraktor. Saya coba cari website perusahaan tersebut di internet juga tidak ketemu. Keterangan dari pihak PT. Adhi Karya, yang diungkapkan oleh sekretarisnya hanya mengungkapkan bahwa bahwa perusahaannya bekerja sama dengan PT Dutasari Citralaras. “(Dutasari) mengerjakan proyek Adhi sudah sejak lama,“ katanya kepada Tempo, beberapa waktu lalu.

     

  • Sementara petugas keamanan Apay tak menjawab ketika ditanya jenis pekerjaan yang digarap PT Dutasari.Yang dia ketahui hanya asal-usul seluruh petugas keamanan. Mereka dikontrak oleh PT Dutasari. “Mengerjakan apa saja, saya tidak bisa jawab. Saya nanti ditegur,“ kata Apay.

     

  • Tapi yang jelas, ada dua subkontraktor lagi yang bekerja di bawah kendali PT. Dutasari Ciptalaras (setidaknya itu yang terungkap di media). Yang pertama PT. Bestindo Aquatek Sejahtera, yang mendapatkan proyek pengolahan air limbah domestik di lahan Hambalang dari tender yang digelar oleh PT Dutasari Citralaras.Yang kedua PT. Kurnia Mutu, yang menyuplai pipa tembaga untuk pendingin ruangan di kompleks Hambalang. Dengan data dua subkontraktor tersebut, kemungkinan PT. Dutasari Ciptalaras merupakan subkontraktor di bidang general M & E.

     

  • KPK sendiri meragukan PT Dutasari Ciptalaras memiliki kemampuan menjadi subkontraktor PT Adhi Karya menggarap proyek pembangunan komplek olahraga terpadu, di Hambalang Bogor, Jawa Barat. Nilai proyek yang mencapai lebih dari Rp 1,5 triliun seharusnya disubkontrakan kepada perusahaan yang memiliki kemampuan dan keahlian khusus.

2.? “Dutasari merupakan subkon (subkontraktor) seluruh proyek Hambalang”.

  • Kalimat di atas diungkapkan oleh salah seorang petugas keamanan PT. Adhi Karya di Hambalang. Meskipun validitasnya tidak bisa dijadikan pegangan, karena bukan diungkapkan oleh seorang yang berkompeten, namun setidaknya kita bisa menangkap apa yang sebenarnya terjadi di proyek Hambalang tersebut. Meskipun hanya seorang petugas keamanan, pernyataan tersebut pasti bukan asal-asalan. Paling tidak, perugas keamanan tersebut sangat sering berhubungan dengan personil-personil PT. Dutasari Ciptalaras dalam banyak pekerjaan yang berlangsung di proyek Hambalang. Mungkin karena begitu seringnya berhubungan di hampir setiap pekerjaan, membuat petugas keamanan tersebut menyimpulkan seperti yang diungkapkan di atas.

     

  • Seandainya benar demikian yang terjadi, sulit bagi saya untuk berkomentar. Mensubkontrakkan seluruh pekerjaan adalah tindakan yang tidak dapat dibenarkan. Hal ini berlaku, baik bagi kontraktor utama maupun subkontraktor. Baik itu di proyek pemerintah maupun di proyek swasta. Ini sudah menyangkut etika profesionalisme dalam pekerjaan konstruksi. Pihak yang mensubkontrakkan pekerjaan secara keseluruhan tak ubahnya seperti broker, yang tidak mempunyai keahlian spesifik di bidangnya.

3.? Proyek Hambalang disubkontrakkan hingga beberapa lapis.

  • Seperti diungkapkan oleh peneliti ICW Febri Diansyah bahwa pengerjaan proyek Hambalang yang dikerjakan oleh KSO PT. Adhi Karya dan PT. Wijaya Karya, disubkontrakkan hingga beberapa lapis. Subkontraktor diketahui mencapai 17 perusahaan, termasuk PT Dutasari Citralaras, yang mensubkan lagi ke PT Bestido dan PT Kurnia Mutu.

     

  • Tidak diketahui, bagaimanakah yang disebut dengan dikontrakkan hingga beberapa lapis. Apakah ada subkon spesialis yang lebih spesifik yang bekerja di bawah kendali subkontraktor. Itu mungkin saja, tapi sampai berapa lapis? Yang pasti, hal ini akan berakibat inefisiensi dan menyulitkan dalam koordinasi pekerjaan. Diragukan bahwa standar prosedur dan hasil kerja yang ditetapkan oleh kontraktor utama akan sampai pada subkontraktor pada lapis paling bawah. Dan ini akan berujung pada saling lempar tanggung jawab, baik pada masa konstruksi, maupun pada masa pasca konstruksi (masa pemeliharaan).

     

  • Pengalaman saya bekerja di kontraktor, dengan nilai kontrak hingga 450 milyar, tidak penah menemui adanya subkontraktor berlapis, dalam arti subkontraktor mensubkan lagi pekerjaannya secara kesuluruhan. Jika itu terjadi, maka akan langsung dibatalkan kontraknya. Sedangkan subkon yang mensubkontrakkan lagi sebagian pekerjaannya pada item pekerjaan yang lebih kecil, itu jarang terjadi. Jika itu terjadi, harus dilaporkan pada kontraktor utama, sehingga koordinasi untuk pengawasan dan pencapaian mutu tetap terlaksana dengan baik.

Kesimpulan

Dari uraian saya di atas yang membahas beberapa kejanggalan yang terjadi di Proyek Hambalang, ditinjau dari aspek profesionalisme dalam dunia konstruksi, saya menekankan pentingnya aspek aspek keahlian dalam menentukan subkontraktor yang menjadi rekanan kontraktor utama dalam pelaksanaan proyek. Sosialisasi dan penerapan standar prosedur dan metode kerja kepada seluruh pihak yang terlibat dalam proyek adalah hal yang lebih penting, untuk memastikan sistem berjalan dengan baik. Pada kontraktor yang sudah menerapkan ISO 9001, hal ini sangat penting untuk menelusuri setiap kali terjadi permasalahan dalam pelaksanaan pekerjaan. Pelimpahan sebagian pekerjaan pada subkontraktor yang benar-benar spesialis di bidangnya, di samping penting untuk pencapaian mutu pekerjaan, juga membantu kemudahan dalam koodinasi dan pengawasan. Penerapan standar prosedur dan mutu pekerjaan juga akan lebih mudah diimplementasikan selama berlangungnya masa konstruksi.

Kontraktor utama pun juga dituntut kemampuan yang spesifik dalam mengkoordinasikan semua pekerjaan yang berlangung dibawah kendalinya, baik dalam koordinasi internal antar bagian di dalamnya (pengadaan, engineering dan lapangan), maupun koordinasi eksternal yaitu mengkoordinasi semua subkontraktor dan supplier. Dan koordinasi tersebut menyangkut upaya pencapaian target mutu, waktu (on schedule) dan biaya (efisiensi).


Tags: hambalang, kontraktor, subkontraktor, konstruksi

創作者介紹
創作者 starfeeling 的頭像
starfe

starfeeling

starfe 發表在 痞客邦 留言(0) 人氣( 6 )