agen bola,betting-Entrepreneurship: Visi Baru terhadap ‘Medan Perang’ Dunia Kerja dan Momok Pengangguran


【agen judi, agen bola, betting, bandar bola, baccarat, poker, games, agen bola ibcbet, agen bola terpercaya, agen bola tangkas, agen bola sbobet, situs judi bola, judi online, sbobet, ibcber】

13218549641422682870

Salah satu bahan perbincangan yang selalu manis untuk didiskusikan adalah masalah pengangguran di Indonesia. Angka pengangguran di Indonesia selalu berada pada tingkat yang cukup akut. Pengangguran terbuka pada awal tahun 2011 saja mencapai 9,25 juta orang. Walaupun jumlah ini turun 1,5 persen dari angka pengangguran tahun sebelumnya, namun masih jauh dari target yang diharapkan.

Disamping angka pengangguran terbuka yang cukup kritis, angka setengah menganggur mencapai 32,8 juta orang pada tahun 2010. Diperkirakan pada tahun 2011 angka ini naik menjadi 34,32 juta orang.

Yang memprihatinkan adalah masih banyaknya para penganggur yang sudah mengantongi gelar sarjana. Ilmu yang telah mereka gali selama kurang lebih 16 tahun, sepertinya luluh begitu saja ditelan keadaan. Hal ini tentunya menjadi suatu paradoks, karena harusnya mereka mampu mengampu berbagai pekerjaan dengan ilmu mereka. Dan inilah suatu bentuk misteri klasik yang harus segera dipecahkan di negeri ini.

Analogi Dunia Kerja dengan Medan Perang

Suatu peperangan pastinya menghadapkan antara kelompok-kelompok besar dalam suatu medan perang. Dalam suatu model peperangan klasik, dua kelompok saling berhadapan di sebuah tanah lapang dan begitu sangkakala perang dibunyikan, kedua kelompok saling beradu. Mereka saling mempertahankan nyawa demi kelangsungan hidup. Yang kuat belum tentu menang. Tetapi, yang mempunyai ketrampilan dalam pola pertahanan dan penyerangan yang bagus, dialah pemenangnya.

Pada masa globalisasi yang super ketat saat ini, dunia kerja bagaikan medan perang bagi para angkatan kerja. Persaingan dalam mencari pekerjaan seolah-olah mempertaruhkan hidup dan mati. Apalagi perbandingan antara jumlah lapangan pekerjaan yang tersedia dengan pencari kerja masih jauh rentangnya. Medan perang menjadi semakin sempit, namun pasukan bertambah banyak. Yang tidak mengatur strategi akan gugur. Yang membangun strategi akan mampu bertahan dari gencarnya serangan. Dan ketika berada pada saat yang tepat, akan melancarkan serangannya.

Itulah yang diperlukan dalam dunia kerja. Lulusan yang siap terjun dalam medan perang dunia kerja harus mempunyai strategi yang mumpuni. Mereka harus membangun pola pertahanan dan penyerangan yang kuat karena akan dipertemukan dengan sekian banyak pesaing lainnya. Kalau tidak mempunyai strategi khusus, maka dalam seleksi penerimaan kerja mereka akan mudah tersingkir.

Jika dalam peperangan terdapat jenderal yang berwenang memberikan instruksi kepada pasukannya dan bahkan mengatur sendiri jalannya peperangan, maka dalam dunia kerja juga ada jenderalnya. Jenderal dalam dunia kerja adalah entrepreneur atau pengusaha. Tentunya mereka telah mempunyai pola pertahanan dan penyerangan yang baik dalam mengahadapi persaingan pasar kerja. Dan pastinya pola pertahanan dan penyerangan yang baik itu tak lepas dari ilmu entrepreneurship yang matang.

Entrepreneurship sebagai Strategi Baru

Entrepreneurship adalah jiwa kewirausahaan yang dibangun untuk menjembatani antara ilmu dengan kemampuan pasar. Entrepreneurship ini sangat diperlukan pada masa globalisasi yang menuntut kecakapan ekonomi seperti sekarang ini. Dunia kerja seolah menjadi medan perang bagi para angkatan kerja. Banyak sekali orang yang mengasah ilmunya sampai bertahun-tahun lamanya. Namun ketika turun di medan perang dunia kerja, mereka dengan mudah tersingkir begitu saja.

Adanya visi terhadap dunia kerja yang salah harus segera dibenahi. Banyak pelajar yang mempunyai pandangan bahwa mereka belajar untuk mencari pekerjaan, bukan untuk menciptakan lapangan pekerjaan baru. Jika semua berpandangan seperti ini, lalu siapa lagi yang akan menyiapkan lapangan pekerjaan nantinya?

Lulusan anyar tak sedikit yang berorientasi untuk segera mencari pekerjaan. Mereka harus bersaing dengan ribuan lulusan lainnya hanya untuk memperebutkan sekian buah posisi kerja. Yang berhasil lantas bekerja dengan monoton, tanpa pengembangan diri. Yang mengkhawatirkan adalah mereka yang kurang beruntung. Lulusan yang kalah bersaing menunggu lowongan lain, lalu bersaing lagi, dan masih banyak juga yang kurang beruntung lagi. Kalau hal yang demikian berlangsung terus menerus, ujung-ujungnya adalah momok setia di negeri ini, yaitu pengangguran.

Entrepreneurship sebagai suatu bentuk pola pertahanan dan penyerangan dalam medan perang dunia kerja harus ditanamkan pada masyarakat jauh sebelum mereka terjun dalam medan itu sendiri. Entrepreneurship ini telah banyak diajarkan sebagai materi pelajaran untuk bahan pembelajaran. Jika selama ini pelajaran kewirausahaan hanya terfokus pada SMK saja, maka pelajaran ini harus disebarluaskan pada jenjang pendidikan lainnya. Targetnya adalah SMA dan perguruan tinggi. Mengapa? Karena usia pada level tersebut merupakan usia yang produktif sebagai angkatan kerja.

Untuk mempersiapkan para lulusan agar mampu mengimbangi ketatnya persaingan di dunia kerja, diperlukan pengetahuan kewirausahaan (entrepreneurship knowledge) yang cukup matang. Dengan ilmu kewirausahaan, seseorang akan berinisiatif untuk menciptakan sendiri lapangan pekerjaan baginya, dan bahkan untuk orang lain. Maka dari itu, ilmu kewirausahaan harus diberikan bukan hanya di SMK saja, namun juga di tingkat SMA dan perguruan tinggi.

Ini adalah salah satu rancangan pola pikir kepada para pelajar, khususnya mahasiswa, agar setelah lulus mampu mengembangkan ilmu yang didapatkannya dengan pengetahuan kewirausahan. Mereka diharapkan mampu menciptakan lapangan pekerjaan sesuai dengan bidang yang digelutinya. Salah satu akibat positif dari hal ini adalah terserapnya para pencari kerja yang masih menganggur. Dengan demikian, lapangan pekerjaan semakin terbuka lebar dan pengangguran bisa ditekan. Setidaknya istilah “sarjana pengangguran” bisa dihapus dari kamus dunia kerja Indonesia.

Jika pandangan pelajar masih bergaya kuno, yakni “belajar untuk mencari kerja”, maka dengan ilmu kewirausahaan diharapkan pandangan tersebut akan berubah menjadi “belajar untuk menciptakan kerja”. Hal ini akan membuat para lulusan SMA/SMK maupun perguruan tinggi tidak hanya menjadi budak dalam medan perang, namun juga sebagai jenderal sejati. Itulah yang sebenarnya diperlukan di negeri ini sekarang.

Dengan entrepreneurship, para lulusan akan mampu “bertahan” ketika persaingan memperoleh pekerjaan semakin tegang. Mereka juga mampu “menyerang” ketika lapangan pekerjaan menjadi semakin arang. Entrepreneurship akan mempertahankan mereka dalam kondisi yang menuntut berbagai inovasi dalam usaha. Semuanya hanya ada satu kunci, yakni entrepreneurship dijadikan visi baru. Dijadikan pola pertahanan dan penyerangan dalam medan perang dunia kerja.

Salam,

Landung Anandito

sumber gambar: di sini


創作者介紹
創作者 starfeeling 的頭像
starfe

starfeeling

starfe 發表在 痞客邦 留言(0) 人氣( 4 )