agen bola,betting-Durian Otak dan Nasi Katok di Pesta Buah-buahan Kebangsaan: Catatan Muhibah ke Brunei (6) |
| 【agen judi, agen bola, betting, bandar bola, baccarat, poker, games, agen bola ibcbet, agen bola terpercaya, agen bola tangkas, agen bola sbobet, situs judi bola, judi online, sbobet, ibcber】
Pasar Buah-buahan
Pagi itu, langit kota Bandar Seri Begawan tampak begitu cerah ketika bus berwarna ungu Circle line nomer 01 yang membawa saya dari Gadong berlabuh di Terminal Bas di kawasan Jalan Catur. Seperti biasa, pusat Bandar ini pun selalu saja dalam keadaan lengang. Tidak terlalu banyak orang yang berjalan kaki ketika saya berbelok ke Jalan Sultan menuju kawasan Sungai Brunei.
Bendera Brunei di atas Tenda
Dari kejauhan, sudah terlihat deretan tenda-tenda berwarna putih yang ada di waterfront Bandar Seri Begawan.Sementara puluhan benderakebangsaan Brunei Darussalam yang berwarna kuning putih hitam dan merah berkibar dengan gagahnya di sela-sela deretan tenda tadi. Wah tumben ada semacam keramaian di pusat Bandar di tepi sungai, fikir saya dalam hati.
Waterfront BSB
Sehabismenyebrang jalan baru terlihat jelas sebuah baleho berdasarkan kain putih yang bertuliskan judul acara yang digelar di Bulan Februari ini. “Pesta Buah-buahan Kebangasaan 2012”, demikianlah tajuk yang tertera di billboard tadi. Di bawahnya terlutils juga“Anjuran Kementrian Hal Ehwal Dalam Negri , Dikendalikan oleh MajelisPeundingan MukimPengkalan Batu, dengan Kerjasama Jabatan Daerah Brunei dan Muara dan Jabatan Bandaran Bandar Seri Begawan”Mukim sendiri bisa disamakan dengan semacam Kecamatan atau mungkin juga Kelurahan .
Durian Otak
Semakin mendekat saya dapat melihat kumpulan penjual berbagai jenis buah-buahan baik yang dikenal maupun yang khas ada di Brunei. Salah satu yang menarik adalah buah durian yangbuahnya tidak terlalu besar namun dagingnya kelihatan sangat kuning menyala, bahkan ada yang dagingnya sampai kemerahan. Salah satunya adalah durian otak yang ketika saya tanya harganya 25 Ringgit untuk empat buah. Wah cukup mahal untuk ukuran Indonesia, tetapi murah untuk standar Brunei.
Durian
Selain itu, masih banyak lagi buah-buahan yang sebagian besar saya tidak ketahui namanya.Di salah satu gerai, saya tertarik membeli beberapa ikat rambutan yang tampak sangat merah dan ranum. Ketika saya tanya harganya hanya satu ringgit. Maka setelah membayar saya pun langsung menikmati rambutan sambil ikut duduk di kursi plastiik di samping penjualnya. “Darimana nih rambutan?” Tanya saya kepada si penjual , seorang lelaki berumur 50 tahunan. “Temburong”, jawabnya sambil tersenyum ramah. “Tadi pagi masih banyak bahkan ada rambutan yang tidak pakai biji”, tambahnya lagi. Temburong sendiri merupakan dalah satu daerah di Brunei yang bisa disamakan dengan propinsi. Secara Geografis Temburong merupkan kawasan yang masih terdiri dari kampung dan hutan, dan uniknya hanya dapat dicapai melalui sungai dari dermaga persis di waterfront ini. “Dengan perahu motor kita bisa ke Temburong dalam waktu 45 minit”, demikan tambah sang penjual. Uniknya kalau melaui jalan darat untuk mencapai Temburong, kita harus membawa paspor karena harus melewati daerah Sarawakyang termasuk Malaysia. Sambil menikmati rambutan saya terus bercakap-cakap sampai akhirnya datang lagi seorang pemuda yang ternyata pekerja dari Indonesia yang baru tiga bulan bekerja di Temburoong. Sebuat saja “Asep” yang berasal dari daerah Cianjur di Jawa Barat. Percakapan sambail makan rambutan bertambah seru karena dengan Asep saya dapat bercakap-cakap dengan bahasa Indonesia campur sundasementara dengansang penjual saya harus menyesuaikan diri dengan Bahasa Brunei. Tidak lama kemudian, dua buah bus besar berisi rombongan turis manca negara yang kelihatannya dari Eropah berhenti di tepi jalan. Dalam sekejap, puluhan gerai di sekitar kami sudah ramai dikerumuni rombongna turis yang tidak henti-hentinya membuat gambit buah-buah tropis yang eksotis. Tidak ketinggalan rambutan kami. Sepasang suami istri saya tawarkan rambutan saya, dan dia menolak karena bilang tidak ada uang. Saya bilang mereka boleh mencicipi rambutan saya dengan gratis. Akhirnya suami istri itu pun ikut makan rambutan saya. Ternyata mereka berasal dari Jerman dan mengunjungi Brunei bersama rombongan kapal pesiar. Mereka hanya mampir sebentar di Brunei danbetul tidak punya uang “Ringgit Brunei”. Lucunya ketika mereka pergi saya sempatkan memberikan seikat rambutan yang saya punya dalam plastik berwarna hitam dan kemudian mereka pun memberikan saya selembar uang lima Euro.
Nasi Katok
Wah lumayan juga rambutan yag saya belisatu ringgit tiga ikat bisa dijual satu ikat seharga lima euro . Benar-benar pengalaman berjualan buah yang berkesan di Brunei. Dan setelah itu saya pun mampir ke sebuah gerai yang menjual nasi katok seharga satu ringgit saja.? Nasi Katok ini adalah kuliner berupa? nasi campur ayam yang khas Brunei. Tags: freez, nasi katok, pesta buah-buhan kebangsaan, durian otak, brunei |
- Feb 06 Wed 2013 19:04
-
Durian Otak dan Nasi Katok di Pesta Buah-buahan Kebangsaan- Catatan Muhibah ke Brunei (6)






請先 登入 以發表留言。