agen bola,betting-Djogdjakarta Slowly Asia |
| 【agen judi, agen bola, betting, bandar bola, baccarat, poker, games, agen bola ibcbet, agen bola terpercaya, agen bola tangkas, agen bola sbobet, situs judi bola, judi online, sbobet, ibcber】
Keraton Yogya/Shutterstock)
Ketika ayah saya wafat tahun 1990, saya mengalami pukulan emosi yang luar biasa. Saat ini saya berziarah ke berbagai tempat disepanjang pulau Jawa dan Bali. Saya banyak berdiskusi dengan mentor-mentor spiritual. Saat itu saya seoalah mencoba mencari jawaban atas pertanyaan yang juga tidak saya paham. Saya tidak menemukan apa-apa. Proses itu malah melelahkan jiwa dan raga. Suatu hari di Djogdjakarta saya bertemu dengan Mpu Peniti. Dan saya diajak minum teh ala Djawa. Nas-Gi-Tel. Disebelah kanan ada bokor berisi teh yang panas, pahit dan kental. Di sebelah kiri ada gelas kosong berisi gula batu. Dengan cara yang sangat sederhana saya dijelaskan oleh Mpu Peniti tentang kebahagian hidup. Kata beliau teh yang panas, pahit dan kental itu adalah kehidupan kita. Dan gelas kosong dengan gula batu adalah kebahagian hidup yang kita idam-idam-kan. Lalu dengan perlahan beliau menuangkan teh yang panas, pahit dan kental itu kegelas yang berisi gula batu. Membiarkannya larut pelan-pelan dan minum pada saat yang pas dengan kemanisan yang sangat pas. Mpu Peniti, menghela nafas panjang, sehabis minum dan diwajahnya saya melihat kepuasan dan kenikmatan yang luar biasa. Saat itulah saya jatuh cinta pertama kalinya pada filosofi pelan ala Djawa. Beberapa tahun kemudian seorang teman di Djogdjakarta, bercerita bahwa kata yang tepat adalah “Alon-alon waton kelakon.” Dan bukan “Alon-alon maton kelakon”. Dalam filosofi yang indah luar biasa ini, focus intinya bukanlah pada pelan-nya. Tetapi justru pada hasil dan tujuan akhirnya. Bahwa kita kalau sudah punya tekad, harus tercapai. Kalau prosesnya pelan, biar saja . Yang penting tercapai. Pelan dan lambat sangat berbeda. Begitu penjelasan seorang guru Yoga kepada saya. Ia menyarankan kepada saya untuk selalu melakukan meditasi, dengan bernafas secara teratur, pelan-pelan dan panjang. Semata agar ada penyerapan enerji yang lebih besar. Namun jangan lambat bernafas. Nanti mati. Katanya sambil tertawa. Sejak tahun 1990, saya kemudian belajar dan menekuni “pelan”. Pernah sekali di Tokyo, seorang master chef sushi bercerita bahwa kita sebenarnya miskin terhadap waktu. Itu sebabnya semuanya kita lakukan tergesa-gesa. Makan sushi yang benar harus dilakukan dengan cukup waktu. Alias pelan-pelan. Kita duduk didepan counter sushi, berhadapan dengan sang master chef. Ia biasanya bercerita tentang hari ini, dan apa saja ikan yang segar yang ia temukan di pasar subuh tadi. Lalu kita menonton sang master chef membuat sushi, kemudian makan satu demi satu saling berkomentar dan bercerita. Ditemani sake. Bukan dengan cara makan sebanyaknya-banyaknya dalam waktu singkat. Dalam kisah ini pelan adalah kemewahan hidup yang luar biasa sekali. Dan lama kelamaan saya mulai mengerti juga bahwa pelan itu sangat indah. Lalu dalam 10 tahun selanjutnya, saya menemukan Djogdjakarta. Terpesona dengan keindahan jiwanya. Pelan menjadi titik terpenting dalam kehidupan saya. Saya belajar bahwa Gamelan adalah orchestra yang ditabuh pelan-pelan. Dan dalam keseimbangan serta keteraturan pelan, kita menemukan harmonisasi dan keindahan nada. Sebuah siraman yang menyejukan jiwa. Kuliner Djogdjakarta seperti gudeg, resep aslinya harus dimasak 3 hari 3 malam, dengan api sangat kecil, sehingga bumbunya meresap. Pelan adalah proses yang sangat dimengerti dan dimuliakan oleh orang Djawa. Seni membatik, yang memerlukan ketekunan, kesabaran, juga inspirasi lain dari proses pelan yang indah. Itu sebabnya keindahan sepotong kain batik tidak ditemukan pada motifnya semata, namun dari kesucian prosesnya yang memakan waktu. Tarian seperti Serimpi dan Bedaya, secara sacral juga di tarikan dengan amat pelan. Mirip kita menonton film dengan gerakan slow motion. Sangat mistis sekali. Konon ketika orang Djawa membuat keris, logam terakhir harus datang dari sisa meteor yang jatuh kebumi. Sebuah pertanda, bahwa keris selesai karena ijin dari langit. Sebuah proses yang bisa jadi sangat pelan, namun memiliki kepatuhan dan respek yang sangat tinggi antara manusia dan penciptanya. Pelajaran, cerita dan wejangan ini semua, membuat saya bercita-cita untuk membuat sebuah industri pelan di Indonesia. Dalam sebuah diskusi dengan kartunis Ismail Sukribo, beliau menyodorkan sebuah konsep lucu “DJOGDJAKARTA SLOWLY ASIA”. Mulanya saya tertawa mendengarnya. Lewat perenungan yang lama, akhirnya saya tersentak bangun. Ide “DJOGDJAKARTA SLOWLY ASIA’ sangatlah brilyan dan sexy sekali. Dan bisa menjadi kampanye yang menjadikan Djogdjakarta menjadi tujuan wisata global dunia berikutnya. Bayangkan saja bahwa selama ini berapa banyak penduduk dunia, seperti di New York, Tokyo, HongKong dan kota-kota lain, menderita stress dan kelelahan yang sangat luar biasa. Mereka semuanya mencari tempat pelarian dan tempat belibur. Apa jadinya, kalau kita tawarkan kepada mereka, sebuah janji – “Barang siapa …. yang hendak membuat hidupnya menjadi lebih “PELAN”….. silahkan saja datang ke Djogdjakarta. Ibu kota Pelan di dunia.” Karena di Djogdjakarta anda bukan saja bisa menghilangkan stress dan kelelahan, tetapi juga belajar seni hidup pelan. Mengerti proses pelan secara seutuhnya. Salah satu bukti otentik, konon statistik wilayah DJOGDJAKARTA menunjukan bahwa usia rata-rata masa hidup orang Djogdjakarta mendekati angka 75, dan diatas rata-rata masa hidup orang Indonesia yang berkisar 68 tahun. Dapat kita simpulkan budaya dan gaya hidup pelan orang Djogdjakarta minimal membuat mereka lebih berusia panjang. Djogdjakarta juga bukan miskin atraksi pariwisata. Mulai dari gunung hingga pantai. Semuanya dimiliki Djogdjakarta. Seni, budaya, dan kulinernya juga sangat beragam dengan pesona dan atraksi yang luar biasa.Pantai seperti Parangtritis, Sadeng, Siung hingga Krakal, semuanya punya karakter khusus yang serba unik. Malah Djogdjakarta juga memiliki Borobudur, yang merupakan artefak agama Buddha yang terbesar didunia. Jadi dari segi produk Djogdjakarta semestinya punya potensi yang sangat luar biasa. Patut menjadi tujuan pariwisata global dunia. Yang kurang, barangkali seperti biasa adalah promosi dan branding yang kuat. Kurang lebih 5 tahun yang lalu, saya puny aide untuk membuat sebuah ‘hub’ di Djogdjakarta untuk mempromosikan gerakan pelan ini sehingga menjadi sebuah industry pariwisata pelan. Cita-cita ini terus menerus bergetar sedikit demi sedikit. Melebar dan bergema. Hingga satu saat, saya ketiban rejeki karena Ibu Tirto Utomo, membantu saya untuk mewujudkan cita-cita ini. Sebuah geduang bekas Gudang Aqua, di Jalan Raya Magelang km 8 – Sleman, di bolehkan untuk disulap menjadi ROEMAH PELANTJONG. Dengan slogan ‘SEMUANYA YANG PELAN ADA DISINI’ – ROEMAH PELANTJONG beroperasi sejak 18 Juni 2011, dengan cita-cita menjadi sebuah galeri besar untuk memajang semua produk pelan ala Djogdjakarta. Sehingga semua pelancong bisa mengagumi filosofi pelan ala Djogdjakarta ini. Saat ini di ROEMAH PELANTJONG, sudah ada galeri dengan produk, batik, kaos, sutera liar, toko buku, dan aneka kerajinan Juga sudah ada tempat ngopi yang diberi nama REPOEBLIK NONGKRONG dimana para turis bisa menikmati SLOW TEA alias NAS-GI-TEL ala Djogdjakarta. Di lantai atas ada LENTUR GALLERY yang didedikasikan untuk artis-artis muda DJOGDJAKARTA untuk memajang karya-karya mereka. Nantinya dalam 1-2 bulan mendatang ROEMAH PELANTJONG akan dilengkapi dengan museum BAKPIA dan MINI MALIOBORO. Dan dibelakang juga tersedia sebuah ruang makan besar yang sedang di renovasi dan akan menjadi galeri aneka kuliner khas Djogdjakarta. Aneka komunitas seni telah memanfaatkan ROEMAH PELANTJONG untuk berbagai kegiatan, mulai dari acara pameran lukisan, pameran Sajadah dan Kerudung, lawakan, acara seminar, music hip-hop, hingga peluncuran buku. Yang menarik adalah ROEMAH PELANTJONG memiliki dinding lebih dari 400 m2 yang rencananya akan dijadikan kanvas dengan berebagai seni mural, street art dan graffiti. Di pintu masuk, ROEMAH PELANTJONG memiliki aula besar yang kini telah diberi lukisan mural yang menceritakan budaya di aula ini digelar mural dari Ganesha hingga Nyai Loro Kidul. Salah satu lorong yang nantinya akan dijadikan MINI MALIOBORO kini sudah di hias dengan graffiti dan street art – DJOGDJAKARTA SLOWLY ASIA. Dengan sejumlah interpertasi kontemporer. Dalam 6 bulan mendatang ROEMAH PELANTJONG akan menggalang kerja sama dengan berbagai pelaku pariwisata DJOGDJAKARTA dengan tujuan agar tercipta sebuah peta yang melukisakan produk-produk pelan khas Djogdjakarta, sehingga turis bisa datang dan menikmati sehari pelan di Djogdjakarta, mulai dari pagi hingga malam. Sebuah web-site dan film documenter juga sedang direncanakan. ROEMAH PELANTJONG sendiri tiap bulan mengadakan kegiatan untuk mempromosikan DOGDJAKARTA SLOWLY ASIA. Dengan kerja sama bersama pelaku pariwisata di kota DJOGDJAKARTA, diharapkan dalam 2-3 tahun, branding DJOGDJAKARTA SLOWLY ASIA tidak menjadikan isapan jempol belaka, melainkan sebuah gerakan promosi dengan kepemilikan bersama yang mampu mengukuhkan posisi Djogdjakarta sebagai sebuah tujuan pariwisata global.
|
- Feb 06 Wed 2013 19:01
-
Djogdjakarta Slowly Asia

請先 登入 以發表留言。