agen bola,betting-May Day, Demokrasi dan Siapa Kita? |
| 【agen judi, agen bola, betting, bandar bola, baccarat, poker, games, agen bola ibcbet, agen bola terpercaya, agen bola tangkas, agen bola sbobet, situs judi bola, judi online, sbobet, ibcber】 Buruh kita dipastikan kembali lagi beraksi di harinya ini, 01 Mei 2012 atau yang dikenal dengan sebutan May Day. Hari yang dijadikan sebagai simbol monumental perjuangan buruh sedunia. Simbol keberhasilan buruh mengorganisir dirinya untuk melakukan demo hingga sebanyak 400,000 buruh di Amerika. ?Demo yang dimulai 01 Mei 1886 tersebut berakhir dengan tragedi kemanusiaan. Saat aksi memasuki tanggal 04 Mei 1886, ratusan buruh mati ditembak oleh polisi dan para pemimpinnya ditangkap lalu dihukum mati. Pada waktu tersebut, para buruh memperjuangkan waktu kerja dari belasan jam (18-19 jam sehari) menjadi 8 jam. Slogan 8 jam kerja, 8 jam istirahat dan 8 jam rekreasi menjadi isu utama yang mereka angkat sejak parade buruh pertama tahun 1882 di New York. Pada kongres buruh bulan juli 1889, ditetapkan tanggal 01 Mei sebagai hari buruh sedunia serta adanya resolusi, “Sebuah aksi internasional besar harus diorganisir pada satu hari tertentu dimana semua negara dan kota-kota pada waktu yang bersamaan, pada satu hari yang disepakati bersama, semua buruh menuntut agar pemerintah secara legal mengurangi jam kerja menjadi 8 jam per hari, dan melaksanakan semua hasil Kongres Buruh Internasional Perancis”. (Sumber Wikipedia: hari buruh). Kini, May Day menjadi waktu bersama buruh di berbagai negara untuk menyuarakan beragam soal dan tuntutan terkait peningkatan kesejahteraan hidup mereka. Di Indonesia Isu buruh kita dominan terkait tuntutan penaikan upah minimum. Secara signifikan terjadi peningkatan intensitas aktifitas demo buruh di berbagai daerah, termasuk dalam jumlah buruh yang bersuara. Para buruh kita pun kini semakin kuat mengorganisir diri, semakin “terampil” dalam mengemas aksi-aksinya agar tuntutan mereka terpenuhi. Fenomena demo buruh menutup jalan tol beberapa waktu lalu yang berdampak pada naiknya upah minimum menjadi contoh cerdasnya gerakan buruh kita. Dengan semakin besarnya jumlah buruh yang terorganisir dan sadar akan hak-haknya, kedepan tentunya keberadaan buruh akan semakin seksi untuk para politisi. Bila para politisi tersebut secara faktual memang memperjuangkan hak-hak buruh tentunya inilah dinamika politik yang sehat. Kita sejak awal juga perlu cermat agar gerakan buruh tidak dimasuki para politisi busuk yang bergerak menjadi agen kapitalis untuk melemahkan bahkan menghancurkan gerakan buruh. Dalam konteks politik (demokrasi) kita yang tengah diujung tanduk transisi, dimanakah gerakan buruh berada?. Apakah semakin signifikannya gerakan buruh tersebut sebagai puzzle baik untuk perkembangan kehidupan demokrasi kita?. Apakah semakin kreatif dan cerdasnya buruh mengorganisir serta beraksi sebagai kemajuan kehidupan politik?.? Apakah tujuan substansi orde reformasi yang lahir tahun 1998?. Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting di ajukan dalam relasi orde reformasi yang melakukan demokratisasi. Tentunya demokratisasi tersebut ditujukan untuk sebesar-besarnya kesejahteraan rakyat Indonesia, termasuk didalamnya artikulasi kepentingan / masalah kesejahteraan para buruh. Demokratisasi pada orde reformasi ini penting diposisikan dapat menjamin proses perbaikan nasib kelas bawah dan menengah bawah. Demokratisasi tidak boleh berhenti atau hanya pada area pelembagaan nilai-nilai demokrasi dalam lembaga negara serta institusionalisasi lembaga yang menjamin proses demokrasi seperti menghadirkan penyelenggara pemilu yang independen atau mahkamah konstitusi. Bukankah tujuan founding-father kita memilih sistem demokrasi dikarenakan pada kemampuannya yang telah teruji di sejumlah negara lain berhasil meningkatkan kesejahteraan rakyat serta menjamin nilai-nilai kemanusiaan hidup dengan baik. Bung Karno, Bung Hatta, Tan Malaka serta para teladan negarawan lainnya di masa lalu bukanlah orang-orang yang sebatas tersilaukan oleh sihir demokrasi di barat. Mereka juga bukanlah orang-orang yang tak cinta dengan nilai khas ke-Indonesia-an dan kebangsaan. Mereka orang-orang terpelajar yang senantiasa memahami dan memiliki visi masa depan Indonesia. Mereka tak berhenti disitu, melainkan juga meninggalkan sejumlah peluang kebaikan pribadi demi kemajuan negeri ini. Tentunya mereka ingin visi mereka di tahun 1945 terwujud dimasa kini, yaitu: kemakmuran rakyat Indonesia. Gerakan buruh dalam demokratisasi sejatinya menjadi bagian dari penguatan kelas bawah dan menengah bawah terhadap hegemoni kelas atas yang berperilaku tidak manusiawi. Menjadi pengusaha bukanlah lantas identik dengan hal yang tak manusiawi, menjadi pengusaha bahkan pengusaha besar sungguh wujud kesuksesan, namun menjadi pengusaha besar yang mampu membesarkan hati dan hidup buruhnya itulah wujud hidup sukses dengan kemuliaan. Di Kota Pontianak ada seorang Pak Haji menjadi pengusaha besi bekas yang memiliki rumah mewah dan sekaligus memperlakukan buruhnya dengan mewah. Buruhnya tidak sebatas mendapat upah bulanan, namun anak-anaknya juga dibantu biaya pendidikannya. Secara berkala buruh pengusaha besi ini diumrohkan bahkan dihajikan. Untuk skala industri, kita bisa melihat sosok Matsushita di Jepang yang melakukan tindakan dengan “logika-berbeda”. Tahun 1975, angka pengangguran di Jepang tembus lebih dari 1 juta orang. Kemerosotan ekonomi juga berimbas kepada melemahnya permintaan produk elektronik, termasuk pada perusahaan Matsushita. Matsushita mengambil kebijakan menerapkan sistem kerja setengah hari dengan upah tetap penuh untuk buruhnya dan membekukan kenaikan gaji tingkat manajer menengah keatas. Matsushita enggan untuk melakukan PHK massal, cara yang telah dilakukan sejumlah perusahaan lain dan kerap menjadi kebijakan prioritas di Indonesia bila menghadapi masalah serupa. Bagi Matsushita, buruh perusahaannya merupakan keluarganya. Sama dengan Pak Haji, Pengusaha besi bekas di kotaku. Matsushita dan Pak Haji juragan besi bekas sadar akan siapa diri dan buruhnya. Bahwa buruhnya adalah manusia yang sama dengannya, lebih jauh lagi Matsushita dan Pak Haji juragan besi bekas sangat sadar bahwa pekerjanya adalah orang-orang yang tinggal dekat dengannya dan merekalah tulang punggung usahanya. Tanpa mereka yang berpeluh-peluh bekerja, usaha Matsushita dan Pak Haji juragan besi bekas tentu tak bisa berjalan dengan sukses. Bila buruhnya bekerja asal-asalan atau berkhianat dapat berdampak pada hadirnya masalah. Perlakuan istimewa Matsushita dan Pak Haji juragan besi bekas membuat buruhnya untuk memberi kerja terbaiknya, karena buruhnya mencintai bos mereka. Nilai kemanusiaan Matsushita dan Pak Haji juragan besi bekas inilah yang nyaris hilang berganti dengan kalkulasi jam kerja, upah minimum, standarisasi, biaya-biaya dan untung-rugi semata. Kehilangan jam kerja buruh maknanya penurunan produksi dan penurunan produksi berdampak pada penurunan potensi keuntungan. Simple like that. Sulit mencari pengusaha yang humanis sekaligus dapat berdampak keuntungan seperti Matsushita dengan sistem kerja pada masa ekonomi Jepang yang sulit. Di Pontianak juga ada pengusaha rumah makan padang yang unik. Setiap bulan ramadhan ia menutup tokonya dan meliburkan seluruh pegawainya untuk fokus beribadah di bulan puasa. Pengusaha itu juga tak lupa memberi bonus sebelum meliburkannya. Aktifitas pengusaha tersebut dibulan ramadhan “menghabiskan-laba”-nya. Saat ditanya kenapa ia begitu, “kita ini hidup setahun 12 bulan, 1 bulan istirahat untuk beribadah tidaklah merugi”. Dan usaha Pengusaha restoran tersebut hingga kini terus berkembang. Maka, sudah saatnya bagi para pengusaha dihari buruh ini memikir ulang konsep manajemen usahanya. Mulai membuka ruang untuk melihat sisi lain praktik bisnis yang dapat menguntungkan sekaligus memberi kemuliaan padanya. Bukankah kebahagiaan maksimum itu pada saat kita mampu membahagiakan orang lain?. Bukankah sebaik-baiknya manusia adalah mereka yang paling bermanfaat bagi orang lain?. Hari ini para buruh tengah sibuk bergerak dan berkumpul untuk memperingati hari buruh sedunia. Semakin banyak buruh yang turun berdemontrasi sejatinya inilah indikator faktual bandul kebijakan pembangunan semakin bergerak ke kelas atas dan meninggalkan kelas bawah alias semakin meninggalkan titik keadilan. Semakin banyak buruh yang hari ini beraksi sejatinya bermakna para pengambil kebijakan terkait semakin tidak dapat memformulasikan regulasi yang mendamaikan hati para buruh. Mungkin para pengambil kebijakan perlu belajar dari Matsushita dan Pak Haji juragan besi bekas. Lebih aneh lagi? bila ada pejabat tinggi yang berkata akan memberi hadiah kepada para buruh di hari ini. Sebuah ironi, karena mustinya pejabat tinggi tersebut harus meminta maaf kepada para buruh yang semakin tahun semakin banyak terlibat aksi, bahwa dirinya belum dapat mensejahterakan para buruh Indonesia. Dan ditengah kesibukan kita, mari sisihkan sedikit ruang di hati kita (para pengusaha) untuk bertanya dengan takzim, Siapa kita?.
|
- Jan 25 Fri 2013 10:30
-
May Day, Demokrasi dan Siapa Kita-
請先 登入 以發表留言。