agen bola,betting-Jika Anda Ingin Memanen, Maka Anda Mengimpor?


【agen judi, agen bola, betting, bandar bola, baccarat, poker, games, agen bola ibcbet, agen bola terpercaya, agen bola tangkas, agen bola sbobet, situs judi bola, judi online, sbobet, ibcber】

13445552611037792361

Harga Kedelai Melonjak (Doc: Detik)

 

Sebenarnya topik ini gaungnya sudah berlalu, tapi tak apalah untuk menambah koleksi tulisan saya. Daripada disimpan di dashboard, lebih baik di share. Semoga ada masukan kritik dan saran yang membangun. Terima kasih.

Ungkapan ini adalah sindiran dari seorang Guru Besar Universitas Lampung, Bustanul Arifin terhadap sikap pemerintah yang langsung membuka kran impor di saat terjadinya kelangkaan kedelai di pasaran. Padahal itu hanya jalan pintas yang tidak efektif sama sekali. Bahkan akan menghasilkan masalah baru dengan diberlakukannya bea masuk 0% mulai bulan Agustus ini sampai akhir tahun. Padahal masalah yang sebenarnya adalah mengenai rendahnya produksi dalam negeri yang belum terpecahkan, sekaligus menghalangi target pemerintah untuk mencapai swasembada pangan.

Alih-alih pemerintah seharusnya mengupayakan cara untuk mencari solusi dalam peningkatan produksi di dalam negeri, malah mengimpor nya. Hal ini justru bertentangan dengan falsafah kehidupan di sektor pertanian yang sangat tinggi, “Jika Anda ingin memanen, maka anda harus menanam. Bukan malah sebaliknya, Jika Anda ingin memanen, maka Anda mengimpor.”

Untuk itu, dia menilai bahwa pemerintah masih belum mempunyai komitmen untuk membangun pertanian Indonesia menuju swasembada pangan 2014. Bukankah seharusnya pemerintah menganggap pertanian itu hidup matinya negara ini, sehingga pangan merupakan hal yang sangat krusial, karena berkaitan dengan kedaulatan negara. Sebaliknya, bila pertanian dianggap sebagai residu dari energi pembangunan ekonomi, maka hasilnya pun tidak akan maksimal.

Hal ini bisa dilihat dari berbagai kebijakan-kebijakan pemerintah yang belum memihak pada kesejahteraan petani. Selain itu terdapat juga berbagai masalah produksi pangan dalam negeri seperti; benih yang buruk, pupuk yang sering langka, inefisiensi lahan dan produksi. Demikian juga darisegi kebijakan perdagangan yang masih belum memihak kepada petani, karena harga komoditas pangan lokal seringnya lebih rendah serta kebijakan impor yang terlalu mudah. Ditambah lagi di sektor perbankan tidak berpihak pada pengembangan sektor pertanian.

Akhirnya, ketidakberpihakan ini masuk bawah sadar ke pemikiran petani, dan petani sebagai ujung tombak pertanian akhirnya menjadi malas. Kalau sudah malas menanam, ya sudah tidak ada hasilnya apa-apa, apalagi mereka menganggap menanam kedelai malah merugi, karena harga jualnya yang rendah. Jadi, tidak mengherankan jika produksi kedelai nasional belum mencukupi kebutuhan dalam negeri. Hal ini seperti diungkapkan oleh Wakil Menteri Pertanian (Wamentan), Rusman Heriawan, kedelai bukan komoditas pertanian yang menguntungkan petani. Karena kedelai? menjadi pilihan ketiga petani setelah beras dan jagung. Disamping itu harganya yang juga tidak menarik.

Sayangnya dalam empat tahun belakangan ini tercatat sudah tiga kali terjadi lonjakan harga kedelai, karena pasokan yang tipis. Setiap krisis terjadi, solusi jangka pendek menjadi senjata penenang. Sementara persoalan mendasar untuk mewujudkan swasembada kedelai tidak pernah diwujudkan dan selalu menjadi slogan para elit negeri ini. Sebagaimana beras, jagung, gula, garam, ikan, serta buah-buahan tropis lainnya. Dan kedelai pun akan bernasib sama dengan sejumlah janji tanpa solusi.

Celakanya, hampir setiap tahun persoalan yang sama terus berulang. Dan lonjakan harga kedelai tentu akan berakibat pada meningkatnya biaya produksi tahu dan tempe. Bahkan, ketergantungan impor Indonesia pada kedelai sudah sangat tinggi. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2011, karena produksi kedelai lokal hanya 851.286 ton atau 29 persen dari total. Sementara Indonesia harus mengimpor kedelai 2.087.986 ton untuk memenuhi 71 persen kebutuhan kedelai dalam negeri.

Untuk itu peningkatkan produksi adalah persoalan mendasar mengatasi krisis kedelai untuk menutup `gap` kekurangan yang demikian besar, antara tingginya konsumsi kedelai dibanding produksi kedelai di Indonesia. Demikian yang diungkapkan oleh Wakil Rektor II Institut Pertanian Bogor Bidang Sumberdaya dan Pengembangan Prof Hermanto Siregar, di sela-sela seminar bertema “Volatilitas Harga Kedelai dan Solusinya” yang digagas Departemen Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM) IPB, Kamis sore tanggal 9 Agustus, 2012.

Dia mengatakan bahwa relatif tingginya konsumsi kedelai dibanding produksi untuk konsumsi serta untuk kebutuhan yang lain, yakni bungkil kedelai? untuk pakan ternak. Jadi, memang produksi kita terbatas dibanding konsumsi. Artinya kita memang sangat tergantung pada impor untuk kecukupan kedelai dibanding produksi sendiri. Kondisi semacam itu implikasinya luar biasa, di mana jika terjadi goncangan di pasar internasional, apalagi dari sumber produsen utamanya Amerika Serikat yang terkena kekeringan, maka dampaknya terhadap harga luar biasa. Kondisi itu, masih dipropagasi lagi oleh pelaku pasar. Contohnya, jika di AS naiknya hanya satu kali, maka di Indonesia bisa menjadi dua hingga tiga kali, karena pelaku pasar selalu mencari untung.

Untuk mengatasi kondisi krisis tersebut, maka mau tidak mau kita harus mengupayakan peningkatan produksi. Dia menyarankan dengan upaya peningkatan produktivitas, karena kalau untuk meningkatkan lahan secara mendadak agak susah. Hal ini terjadi juga pada lahan padi yang masih belum optimal. Kemudian, cara lainnya yang harus dipercepat adalah bagaimana menghasilkan kedelai, yang memang sumber aslinya dari sub-tropis, namun bisa dikembangkan untuk? daerah tropis. Dan itulah justru yang paling utama.

Indonesia pada dasarnya mampu memproduksi sendiri berbagai komoditas pertanian yang terlanjur diimpor. Persoalannya terletak pada kemauan para pemimpin bangsa ini dalam bekerja sama untuk mencapai tujuan tersebut.? Sayangnya para pemimpin bangsa ini belum ada yang mempunyai visi dan tekad membela kepentingan bangsa dan rakyat. Makanya, ketidakseriusan pemerintah dalam menggarap kedelai bisa dilihat sebagai kegagalan dan sekaligus ironi.

Bagaimana menurut Anda? Sekedar berbagi, tapi mungkin beritannya sudah basi.

Salam dan Selamat Beraktivitas

 

創作者介紹
創作者 starfeeling 的頭像
starfe

starfeeling

starfe 發表在 痞客邦 留言(0) 人氣( 0 )