agen bola,betting-Jejak Sang Petualang Juragan Jati |
| 【agen judi, agen bola, betting, bandar bola, baccarat, poker, games, agen bola ibcbet, agen bola terpercaya, agen bola tangkas, agen bola sbobet, situs judi bola, judi online, sbobet, ibcber】 H. Ahsan Rusidi Faz Berawal dari semangat keluar dari jurang kemiskinan, Ahsan nekat merantau ke Jakarta untuk merubah nasib. Hanya dalam empat bulan di Jakarta ia berhasil merintis bisnis beromset miliaran. Kini, ia menjadi salah satu pengusaha yang berkomitmen mensejahterakan masyarakat melalui perkebunan jati. Go Green, menghijaukan bumi. Itulah salah satu langkah Ahsan Rusidi Faz, SH atau yang biasa disebut Sang Prabu Mahesa Jati ini, yaitu dengan cara membuka lahan bisnis perkebunan pohon jati unggulan di wilayah Jawa Timur. Menurut penelitian, satu pohon jati bisa memberikan oksigen kepada lima orang. Kini, Prabu telah menyiapkan 2500 hektar lahan kosong untuk tumbuhnya pohon jati. Jadi, ada berapa ribu orang yang tertolong dengan langkah ini. Bukan tanpa rintangan ketika Prabu memulai karir bisnis di perkebunan jati ini. Ketika itu, saat dirinya merantau ke Jakarta untuk mencari pekerjaan dan memperbaiki kondisi ekonominya yang morat-marit. Ia bermimpi menjadi pengusaha sukses. Tahun 1997, Prabu berangkat tanpa pamit orang tuanya dengan membawa uang 65 ribu rupiah. Saat itu, ia berangkat dari Stasiun Pasar Turi Surabaya naik kereta ekonomi Kertajaya. “Dari Surabaya menuju Jakarta ongkosnya 24 ribu,” ujar lelaki kelahiran Jember 1974 ini. Hari pertama di Jakarta, Prabu tidak tahu harus ke mana, karena tidak ada tujuan sanak saudara. Ia hanya berharap ketika sampai di Jakarta nanti bisa bertemu teman lamanya. Akhirnya ia bekerja sebagai kuli bangunan di bilangan Rasuna Said, Jakarta Selatan. Namun pekerjaan ini ia lakoni tak genap sehari karena terjadi perselisihan antara dia dengan sang mandor. “Saya mendapat ongkos Cuma 3.000 rupiah,” papar ayah dari tiga anak. Saat itu, suami dari Wiwit Sulestio gundah. Apalagi hari itu sudah beranjak malam. Prabu mencoba mencari masjid untuk menginap. Tapi ketika dia sudah menemukannya, pengurus masjid justru melarangnya menginap karena takut barang-barang di masjid hilang. Maklum, penampilannya yang berrambut panjang mengesankan ia sebagai preman jalanan. Dengan terpaksa, Prabu tidur di halte bis yang ada di depan pasar festival selama dua malam. “Saya ingat, saat itu tanggal 17 Agustus dan rambut saya masih gondrong,” kisah putra pasangan KH Achmat Rosidi dan Hj Aisyah. Menolong Berbuah Tawaran Suatu siang, hujan rintik-rintik ketika ia sedang asyik menikmati lajunya mobil di jalanan Kuningan. Tiba-tiba, ada mobil mercy berhenti di pinggir jalan karena bannya pecah. Seorang pengemudi mobil perlahan membuka pintu kaca dan keluar menawarkan pekerjaan. “Mas, bisa ganti ban mobil nggak,” tanya alumni MAN 1 Jember 1992. Tanpa pikir panjang, ia langsung menerima tawaran itu meskipun tidak mengerti masalah otomotif. Namun, setelah beberapa lama, akhirnya ban berhasil ia pasang. Setelah itu, tanpa dinyana, pemilik mobil menyerahkan uang 50 ribu seraya mengucapkan terima kasih dan menyelipkan kartu nama. “Kalau butuh pekerjaan datang ke kantor saya,” ujar pria bermobil Hummer-3 ini. Besoknya, Prabu langsung datang ke kantor di Jalan Rasuna Said, dengan harapan akan mendapat pekerjaan yang layak. Namun ketika hendak masuk ke gedung berlantai 14 tersebut seorang satpam melarangnya masuk karena penampilannya yang kurang meyakinkan. “Bos kami tidak mungkin mengenal Anda,” ujar satpam ketika melihat Prabu dengan rambut gondrong dan pakaian jaket bertambal. Prabu tidak ingin kesempatan yang di depan mata ini hilang sia-sia hanya karena tidak diizinkan masuk oleh satpam. Setelah beberapa kali meyakinkan petugas keamanan itu akhirnya ia diperbolehkan menemuinya, ternyata ia pengusaha telekomunikasi. Pada prinsipnya pekerjaan apa pun akan ia jalani asalkan bisa bekerja. Namun ketika diberi pekerjaan sebagai tenaga administrasi, Prabu bingung karena tidak bisa mengoperasikan komputer. Secara halus ia menolak tawaran itu dan minta pekerjaan lain. Ia pun ditunjuk menjadi tenaga kurir. “Saya masih bingung untuk mengoperasikan komputernya,” kenangnya. Prabu mempertahankan pilihan terakhir sebagai kurir meskipun dirinya belum mengenal seluk-beluk kota Jakarta. Hari pertama mengantar produk ke daerah Roxy, Prabu justru nyasar. Sore hari ia baru kembali. “Untungnya beliau masih memakluminya sehingga memberi saya kesempatan kedua,” ujarnya. Meskipun sebagai kurir, naluri bisnisnya justru tumbuh ketika melihat pasar seluler yang tersebar luas di Indonesia. Berbekal ide cemerlang bisnisnya, Prabu mengusulkan agar perusahaan memborong produk kartu seluler sehingga mendapat keuntungan yang lebih besar. “Begitu ide ini dijalankan, perusahaan saya mendapat untung berlimpah dan saya mendapat komisi dari perusahaan sebesar 300 juta,” paparnya. Jatuh Bangun Usaha Dari uang komisi itu, Prabu memberanikan diri untuk membuka bisnis counter seluler di Jakarta. Meskipun baru empat bulan tinggal di Jakarta Prabu membuka counter di beberapa tempat dengan memanfaatkan dana dari investor sebesar 10 miliar. Karena minimnya pengalaman manajemen, usaha ini bangkrut sehingga Prabu menanggung hutang. Sebelum jatuh tempo pengembalian hutangnya, Prabu melakukan berbagai upaya, salah satunya mendatangi makam para wali songo. Di tengah perjalanan ke Surabaya, Prabu bertemu seseorang yang menawarkan kerja sama. Dari kerja sama itu Prabu merintis usaha kayu di beberapa daerah. “Usaha ini terus berkembang dan menjadi bisnis yang menjanjikan,” jelasnya. Untuk memenuhi permintaan kayu yang terus meningkat tahun 2001, Prabu membuka perkebunan jati seluas 20 hektar. Keuntungan dari usaha perkebunan itu mengantarkan Prabu mengembangkan perkebunan ya ia rintis dengan nama PT Mahesa Alam Semesta (MAS) pada tahun 2006 dengan mengelola lahan seluas 2.500 hektar. Konsep bisnis perkebunan jati ini dikembangkan dengan memanfaatkan lahan-lahan kosong milik warga di beberapa daerah di Jawa Timur. Dibanding menanam padi yang panen tiga kali setahun, perkebunan jati ini lebih menjanjikan karena memanfaatkan bibit Jati Unggul Nusantara (JUN) yang dapat dipanen dalam jangka lima tahun. Jati yang ia tanam juga menawarkan kepemilikan lahan dengan surat hak milik secara resmi atas nama investor yang ingin berinvestasi di kebun jati ini. Selain itu, setiap tanaman jati yang ia tanam telah mendapatkan asuransi penuh dan hasil panenan juga telah dijamin oleh Asmindo (Asosiasi Industri Permebelan & Kerajinan Indonesia). Bisnis ini secara tidak langsung sejalan dengan program pemerintah dalam menanggulangi pemanasan global (global warming) dengan menggalakkan program go green. Pasalnya satu pohon jati dapat mencukupi kebutuhan oksigen untuk lima orang. Jika seseorang menanam lima puluh pohon berarti telah mencukupi kebutuhan oksigen untuk 250 orang. Selain itu, tanaman jati juga dapat mempercepat peningkatan kesejahteraan masyarakat mengingat harga jual kayu jati setiap tahun terus meningkat. Oleh karena itu, para petani tidak perlu menunggu lama untuk memperoleh keuntungan besar. Di antara pemeberdayaan yang dilakukan Prabu adalah dengan memperkerjakan orang-orang sekitar lahan, mulai dari pembibitan, penanaman, perawatan hingga pemanenan. “Selain melibatkan masyarakat sekitar, kami juga melibatkan pesantren dengan cara memberikan pekerjaan merawat jati oleh para santri yang mondok,” ujarnya. Prabu selalu yakin bahwa untuk membangun bangsa ini tidak perlu menunggu waktu lama. Pemimpin bangsa harus bisa membaca potensi alam yang dimilikinya sehingga hanya butuh lima tahun untuk membangun. “Berdayakan sumber daya alam yang ada di daerah,” pungkasnya.
|
- Jan 21 Mon 2013 14:54
-
Jejak Sang Petualang Juragan Jati
請先 登入 以發表留言。