agen bola,betting-Ekowisata (Impian) Indonesia |
| 【agen judi, agen bola, betting, bandar bola, baccarat, poker, games, agen bola ibcbet, agen bola terpercaya, agen bola tangkas, agen bola sbobet, situs judi bola, judi online, sbobet, ibcber】
I Love Indonesia
Industri pariwisata merupakan salah satu industri yang memiliki peran strategis, selain berperan sebagai penghasil devisa negara dan sumber pendapatan daerah, industri pariwisata juga dapat menimbulkan multiplier effect kepada sektor-sektor ekonomi lainnya. Pariwisata di Indonesia terdiri dari tiga kategori objek wisata yang terdiri dari objek wisata alam, budaya, dan campuran alam dan budaya. Ketiga objek wisata tersebut ada di Indonesia sehingga menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan baik domestik maupun mancanegara. Tabel 1. Jumlah kedatangan wisatawan macanegara ke Indonesia menurut negara tempat tinggal periode 2002 - 2009
Sumber: Berita Resmi BPS
Pemberdayaan pariwisata melalui ekowisata bisa menjadi salah satu strategi untuk menghadapi persaingan sektor pariwisata di situasi yang penuh dengan ketidakpastian. Ekowisata merupakan kegiatan perjalanan wisata yang bertanggung jawab di daerah yang masih alami atau di daerah-daerah yang dikelola dengan kaidah alam dimana tujuannya selain untuk menikmati keindahannya, juga melibatkan unsur pendidikan, pemahaman, dan dukungan terhadap usaha-usaha konservasi alam dan peningkatan pendapatan masyarakat setempat sekitar Daerah Tujuan Ekowisata (The Ecotorism Society. PACT, April 1995). Riset Ekowisata Sebenarnya yang dimaksud dengan riset ekowisata ini adalah suatu sistem yang dipakai untuk menetapkan dan menangani masalah atau peluang pariwisata. Sistem ini dapat dilakukan dengan pengumpulan data pariwisata secara terorganisir dan sistematis, serta pengaplikasian hasil temuan data tersebut berdasarkan analisis yang dilakukan. Dengan demikian hasil akhirnya adalah studi yang lebih lengkap dan lebih lebar yang memadukan kemampuan wisatawan, kondisi tempat wisata, serta pendekatan apa yang paling baik untuk para pelaku bisnis pariwisata tersebut terapkan dalam mempromosikan pariwisata. Kemudian dari sudut pandang pemerintah, mereka bisa menggunakan 2 macam riset ekowisata. Yang pertama adalah riset langsung atau riset primer, biasanya riset jenis ini akan membawa si periset langsung pada sumber datanya (dalam hal ini wisatawan). Selain itu pemerintah dapat mengumpulkan keterangan tentang calon wisatawan dengan mengirimkan intelejen ke negara sasaran yang biasanya berkunjung ke Indonesia tentang bagaimana preferensi mereka dalam kebutuhan wisatanya serta menganilisis daya saing antar objek wisata. Riset langsung atau riset primer membawa pemerintah langsung ke sumber informasi yang ia butuhkan tanpa rasa khawatir akan intrepretasi oleh sumber kedua yang belum tentu benar. Yang kedua adalah riset tidak langsung atau disebut juga riset sekunder. Riset ini berasal dari sumber-sumber selain wisatawan. Dari sini pemerintah mungkin akan dapat menemukan data berharga seperti pola kecenderungan waktu kunjungan, informasi populasi pengunjung dan pola pembelian wisatawan dalam membelanjakan uang mereka (misal berapa banyak uang yang bisa dikeluarkan, untuk pembelian barang/jasa apa saja, dll). Data sekunder ini seharusnya dapat dipakai untuk memperkuat informasi primer yang dikumpulkan langsung dari wisatawan. Riset ekowisata dapat dilakukan semurah atau semahal mungkin sesuai yang diinginkan oleh pemerintah, tetapi pemerintah dapat mengumpulkan pengetahuan atau informasi yang amat berguna sebagai tuntunan berpromosi. Secara umum, langkah awal yang harus diambil oleh pemerintah ini bertujuan untuk mengetahui keunggulan dan kelemahan daerah tujuan wisatanya. Caranya adalah dengan menganalisis daya saing ekowisata secara keseluruhan yang ada di Indonesia dengan melihat 8 variabel yaitu aksesbilitas, keindahan dan keunikan, sarana pendukung, ketersediaan akomodasi, sosial dan budaya, pendidikan dan penelitian, rekreasi, petualangan dan olahraga (Pramana dan Kuncoro, 2005). Dengan demikian kita bisa mengetahui tipe objek wisata seperti apakah yang diinginkan oleh wisatawan ini, apalagi mengingat daerah yang ingin dipromosikan oleh pemerintah belum tentu seperti Bali yang memiliki brand image di mata para wisatawan (domestik dan asing). Sehingga riset pariwisata tersebut perlu dilakukan untuk mengetahui perbandingan antara objek wisata yang sudah dikenal luas dengan objek wisata yang akan kita promosikan. Observasi Pariwisata Yang pertama adalah segmentasi ekowisata, maksudnya adalah pemerintah harus bisa menentukan kepada siapa jasa pariwisata ini akan di promosikan, apakah ke wisatawan domestik atau wisatawan mancanegara, masyarakat berpendapatan menengah ke atas atau menengah ke bawah. Dalam kasus ini ada 2 lapisan masyarakat secara general yaitu lapisan yang peduli pariwisata impian*1) dan lapisan yang hanya mementingkan harga tanpa melihat atau mengabaikan kekurangan dari konsep pariwisata impian. Oleh karena itu, pemerintah harus bisa menentukan akan ditujukan kepada kalangan seperti apakah objek wisata yang akan ditawarkan. Kemudian yang kedua adalah pemerintah harus menentukan target ekowisata dalam artian yang hampir sama dengan segmentasi ekowisata namun perbedaannya pada ”targeting”. Pemerintah menentukan target pariwisatanya apakah penduduk negara maju atau negara berkembang, atau kepada masyarakat perkotaan ataukah pedesaan. Jadi cakupan dari proses ”targeting” ini lebih spesifik. Hal selanjutnya yang perlu dilakukan oleh pemerintah adalah memposisikan objek ekowisatanya kepada daerah atau negara tujuan promosi. Pemerintah harus menentukan objek wisatanya ini adalah objek wisatanya yang berorientasi pada harga, keindahan alam atau pelayanan yang diberikan. Contohnya objek ekowisata yang berorientasi pada keindahan alam sebagai andalannya umumnya hanya mementingkan faktor ”bentuk” dari objek wisata yang dimaksud tetapi kurang memperhatikan pelayanan sehingga mudah dilupakan (wisatawan hanya akan berkunjung satu kali saja) dan beralih ke daerah tujuan wisata lainnya pada saat kunjungan berikutnya. Objek wisata yang mementingkan harga pada umumnya memasang tarif dengan harga yang murah tetapi tidak memperhatikan pelayanan terutama objek wisata yang memang memiliki keindahan alam dan infrastruktur yang serba tanggung (dipaksakan menjadi objek wisata). Objek wisata yang mementingkan kualitas pelayanan umumnya memiliki kesan yang baik karena dengan pelayanan yang baik akan makin sempurna karena ditunjang dengan keindahan alam yang cukup baik dan fasilitas menunjang yang terdapat didalamnya. Kegunaan dari proses ”positioning” ini adalah untuk memudahkan si pemerintah untuk menentukan segmentasi dan target ekowisata. Sedangkan tujuan dari segmentasi ekowisata dan menentukan target ekowisata adalah agar si pemerintah dapat lebih efektif dalam mempromosikan tempat, produk & jasa wisata sehingga bisa meminimalisir investasi dan risiko. Hal yang perlu digarisbawahi disini adalah sungguh tidak mungkin apabila pemerintah dan pelaku bisnis pariwisata harus mempromosikan berbagai jenis pariwisata untuk semua kalangan, lagi pula objek wisata akan lebih mudah diterima di masyarakat karena pangsa pasarnya lebih terspesifikasi. Faktor lainnya yang harus dipertimbangkan oleh pemerintah adalah : 1. Price (harga), harga menjadi salah satu indikator keberhasilan promosi ekowisata. Dalam hal penentuan harga terhadap segala sesuatu di tempat objek wisata yang dipromosikan sangatlah penting. Sebaliknya harga dengan kualitas ekowisata yang dipromosikan itu seimbang. 2. Place (tempat), tempat promosi ekowisata adalah satu hal penting dan harus dipikirkan secara hati-hati oleh pemerintah. Dalam hal ini, berdasarkan hasil analisis, hendaknya pemerintah mempromosikan objek ekowisata di tempat yang benar-benar lahan subur untuk ’menggaet’ wisatawan. Karena tempat tujuan promosi yang strategis akan mempermudah proses promosi serta mempengaruhi minat berkunjung wisatawan. 3. Promotion (promosi), promosi ekowisata adalah hal terpenting dalam memasarkan ekowisata, khusunya objek ekowisata baru. Sebenarnya ada begitu banyak promosi diantaranya, promosi 1 arah atau promosi yang bentuknya hanya seperti iklan tanpa melibatkan konsumen didalamnya sehingga bentuknya hanya bersifat pemberian informasi saja. Ada juga promosi 2 arah seperti membuat acara-acara interaktif atau sistem ”direct promotion” dengan metode visit Indonesia year dimana bisa dibuat promosi gencar ke luar dan dalam negeri dengan membuat beberapa event pendukung yang menarik atau memilih duta-duta wisata seperti ajang Abang None untuk tingkat DKI Jakarta dan acara sejenis lainnya untuk masing-masing daerah dengan tujuan mempromosikan pariwisata. Hal yang sebaiknya dilakukan oleh pemerintah adalah mengingat objek wisata yang dijual ini masih baru adalah membuat promosinya seatraktif mungkin serta promosi langsung dan promosi 1 arah (melaui iklan saja). Namun tentu saja pemerintah bebas memilih cara promosi apa yang akan digunakan berdasarkan hasil riset dan observasi sebelumnya. Strategi Ekowisata Terhadap Perubahan Ekologi / Iklim Pemerintah dan pelaku bisnis pariwisata dapat memberikan dukungan penuh dengan menciptakan kebijakan berupa peraturan dan infrastrutur yang menunjang agar terwujudnya 9 aktivitas penyelamat *2) yaitu hemat kertas, mengurangi sampah, hemat air, naik sepeda/jalan untuk jarak dekat, naik bis untuk jarak jauh, menceritakan perubahan iklim ke orang lain, mengganti lampu dengan yang hemat energi, menggunakan alat elektronik hemat listrik, dan pilih produk lokal. Kesembilam aksi nyata yang bisa kita terapkan tersebut dapat dilakukan dalam aktivitas kita sehari-hari, tujuannya selain bisa menimbulkan sensasi tersendiri di tempat tujuan wisata juga dapat menyelamatkan bumi dari bahaya global warming. Strategi Ekowisata Terhadap Perubahan Teknologi Karena wisatawan lebih senang mencari sendiri seluruh informasi tentang tempat pariwisata yang dituju lewat internet maka kerjasama dengan pihak jejaring internet agar mereka bisa selalu online dalam transaksi di internet, selalu meng up date informasi yang diberikan dan bisa menyediakan keterangan yang lengkap dan terpercaya tetang objek wisata yang akan dipromosikan. Terakhir kerjasama dengan pihak penerbang, pelayanan terbaik, harga yang bersaing, dan jaminan keamanan lah yang dicari oleh setiap orang yang akan menggunakan jasa penerbangan tersebut. Strategi Promosi Ekowisata Yang kedua adalah seperti yang dijelaskan sebelumnya bahwa pemerintah harus mampu membentuk segmentasi melalui ceruk pasar. Maksudnya adalah pemerintah harus dapat memanfaatkan karakteristik objek wisata yang unik untuk berbagai kalangan masyarakat, karena dengan besarnya tingkat pluralitas maka tentunya ada suatu keinginan yang belum terpuaskan oleh jasa pariwisata sebelumnya (dalam hal ini adalah objek wisata). Hal yang perlu diingat adalah pemerintah dan pelaku bisnis pariwisata harus siap menanggung risiko. Maksudnya adalah setiap objek wisata apabila dipromosikan perlu waktu untuk menjadikannya ”laku” di masyarakat. Oleh karena itu hasil keuntungan yang didapat pertama kali mungkin tidak akan langsung maksimum, namun diharapkan pendapatan dari sektor ini akan terus bergerak ke arah yang positif (naik). Footnote : |
- Jan 18 Fri 2013 10:38
-
Ekowisata (Impian) Indonesia


請先 登入 以發表留言。